Loyalitas pengguna merupakan konsep penting dalam kajian pemasaran
jasa yang berkaitan dengan komitmen pelanggan untuk tetap menggunakan suatu
layanan secara berkelanjutan. Loyalitas tidak hanya dimaknai sebagai perilaku
penggunaan ulang semata, tetapi juga mencerminkan keterikatan psikologis dan
preferensi jangka panjang terhadap penyedia layanan tertentu. (Oliver
1999)mendefinisikan loyalitas sebagai komitmen yang dipegang secara kuat untuk
melakukan pembelian ulang atau menggunakan kembali produk maupun jasa yang
disukai secara konsisten di masa depan, meskipun terdapat tekanan situasional
serta upaya pemasaran dari pesaing yang berpotensi menyebabkan pelanggan
berpindah. Definisi ini menegaskan bahwa loyalitas memiliki dimensi sikap dan
perilaku sekaligus.
Lebih lanjut, (Oliver 1999) menjelaskan bahwa loyalitas berkembang melalui
empat tahapan, yaitu cognitive loyalty, affective loyalty, conative loyalty, dan
action loyalty. Pada tahap kognitif, pelanggan menilai suatu layanan lebih unggul
dibandingkan alternatif lain berdasarkan pertimbangan rasional. Pada tahap
afektif, loyalitas muncul karena adanya pengalaman positif yang menimbulkan
rasa puas dan keterikatan emosional. Tahap konatif menunjukkan adanya niat kuat
untuk menggunakan kembali layanan tersebut, sedangkan tahap tindakan
merupakan wujud nyata loyalitas dalam bentuk perilaku penggunaan ulang yang
konsisten. Model ini menunjukkan bahwa loyalitas terbentuk melalui proses
bertahap yang dipengaruhi oleh pengalaman layanan yang berulang dan konsisten.
Dalam konteks jasa, loyalitas juga sering dipahami sebagai kombinasi antara
loyalitas perilaku (behavioral loyalty) dan loyalitas sikap (attitudinal loyalty).
Loyalitas perilaku tercermin dari frekuensi penggunaan ulang dan retensi
pelanggan, sedangkan loyalitas sikap tercermin dari komitmen, preferensi, serta
kesediaan merekomendasikan layanan kepada pihak lain. (Oliver 1999b)
menyatakan bahwa pelanggan yang loyal tidak hanya melakukan pembelian ulang,
15
tetapi juga menunjukkan komitmen yang kuat, bersedia memberikan rekomendasi
positif, dan relatif tidak mudah terpengaruh oleh tawaran pesaing. Dengan
demikian, loyalitas menjadi indikator penting keberhasilan perusahaan dalam
membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Secara teoritis, loyalitas berkaitan erat dengan kepuasan dan kepercayaan
pelanggan(Oliver 1999b) menegaskan bahwa kepuasan merupakan salah satu
prasyarat penting terbentuknya loyalitas, meskipun kepuasan tidak selalu secara
otomatis menghasilkan loyalitas yang kuat. Loyalitas yang berkelanjutan biasanya
terbentuk dari serangkaian pengalaman layanan yang konsisten dan memuaskan.
Selain itu, (Morgan & Hunt 1994b) dalam Commitment–Trust Theory
menjelaskan bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama dalam membangun
komitmen hubungan jangka panjang, yang pada akhirnya memperkuat loyalitas
pelanggan
