Piutang


Piutang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa, posisi piutang dalam
neraca yang merupakan bagian dari aktiva lancar sangat mempengaruhi posisi
aktiva, piutang yang jatuh tempo akan ditagih untuk mendapatkan kas. Menurut
Satria (2016:33) piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi
menjadi kas dalam waktu satu tahun dalam satu periode akuntansi. Sedangkan
menurut Subramanyan dan Wild (2014:274), piutang (receivables) merupakan nilai
jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa, atau dari pemberian
pinjaman uang. Piutang mencakup nilai jatuh tempo yang berasal dari aktivitas
seperti sewa dan bunga yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan
piutang rata-rata. Rata-rata piutang kalau memungkinkan dapat dihitung secara
bulanan (saldo tiap-tiap akhir bulan dibagi dua belas) atau tahunan yaitu saldo awal
tahun ditambah saldo akhir tahun dibagi dua.
Piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pelanggan atau pembeli atau
pihak lain yang menjual produk perusahaan. Penjualan kredit akan memberikan
jeda waktu bagi perusahaan sebelum menerima pemasukan (arus kas masuk) dari
hasil pengumpulan piutang. Hal ini akan membebani perusahaan dengan biaya-
biaya piutang, yaitu biaya administrasi piutang, biaya modal atas dana yang
tertanam dalam piutang, biaya penagihan dan biaya piutang yang mungkin tidak
tertagih. Tetapi biaya-biaya tersebut dapat diimbangi dengan penjualan perusahaan
yang meningkat.
Menurut bukti pendukungnya piutang dapat dikelompokkan menjadi (Satria,
2016:37-38):
a. Piutang Wesel/Notes Receivable atau Wesel Tagih, yaitu tagihan yang
didukung oleh instrumen kredit resmi seperti Promes. Promes adalah janji
tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat.
b. Piutang Usaha Biasa yaitu tagihan yang didukung oleh bukti usaha biasa
seperti faktur atau bukti bahwa perusahaan telah menjual barang/jasa ke
pihak yang berhutang (debitur).
Piutang merupakan aktiva yang paling penting dalam perusahaan dan dapat
menjadi bagian yang besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah seperti
yang dikemukakan oleh Riyanto (Satria, 2016:34-35) sebagai berikut:
a. Volume penjualan kredit
Besar kecilnya volume penjualn kredit yang ditetapkan oleh perusahaan
akan berpengaruh terhadap jumlah piutang yang terdapat dalam perusahaan,
semakin besar volume penjualn kredit maka semakin besar pula investasi
dalam piutang perusahaan akan semain besar. Sebaliknya, semakin kecil
volume penjualan kredit yang ditetapkan perusahaan maka jumlah piutang
akan semakin kecil.
b. Syarat pembayaran penjualan kredit
Syarat atas penjualan kredit yang ditetapkan pihak perusahaan dapat bersifat
ketat atau lunak. Semakin ketat syarat pembayaran yang ditetapkan, maka
semakin cepat pengembalian piutang. Sehingga jumlah piutangnya
perusahaan akan semakin kecil. Sebaliknya semakin lunak syarat
pembayaran yang ditetapkan, maka pengembalian piutang akan lebih lama
dan jumlah piutang akan lebih besar.
c. Ketentuan tentang pembatasan kredit
Dalam penjualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas pemberian
kredit kepada pelanggan. Semakin tinggi batas yang ditetapkan, maka
semakin besar pelanggan membeli secara kredit, sehingga jumlah piutang
akan lebih besar.
d. Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang
Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang dapat dilakukan secara aktif
maupun pasif. Bila digunakan secara aktif, maka perusahaan harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk mendanai usaha ini. Dengan
menggunakan cara ini piutang yang ada akan cepat tertagih, sehingga akan
memperkecil jumlah piutang perusahaan. Namun, bila perusahaan
menerapkan cara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama
sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.
e. Kebiasaan membayar dari para pelanggan
Kebiasaan para pelanggan untuk membayar dalam periode cash discount
akan mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan jika pelanggan
membayar pada periode sesudah cash discount akan mengakibatkan jumlah
piutang lebih besar, karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih
lama untuk terealisasi menjadi kas