Kecerdasan emosi tidak didapatkan begitu saja, tetapi diperoleh melalui
proses pembelajaran. Terdapat beberapa faktor yang dapat membentuk kecerdasan
emosi seseorang, yakni (Goleman, 2019):
- Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama untuk mempelajari
emosi. Pembelajaran emosi dimulai saat bayi dan terus berlanjut
sepanjang kehidupan. Keluarga adalah subjek pertama kali yang
diamati anak, bagaimana cara berinteraksi dengan anak dan
menyalurkan emosi kepada anak. Kecerdasan emosi dapat diajarkan
kepada anak saat masih bayi dengan cara memberikan contoh-contoh
ekspresi, karena anak sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling
halus sekalipun. Kehidupan emosi yang dipupuk sejak dini oleh
keluarga sangat berdampak bagi anak di kemudian hari, sebagai contoh:
anak dapat mengenali, mengelola dan memanfaatkan perasaan-
perasaan, berempati, tanggung jawab, dan lain sebagainya. Kemampuan
tersebut dapat membantu anak lebih mudah menangani dan menghadapi
permasalahan. Sehingga anak tidak memiliki banyak masalah tingkah
laku yang negative (Goleman, 2015) - Lingkungan Sosial
Penyesuaian dengan tuntutan orang lain membutuhkan sedikit
ketenangan dalam diri seseorang. Tanda kemampuan mengelola emosi
muncul kira-kira pada periode anak-anak dalam aktivitas bermain
peran. Bermain peran memunculkan rasa empati, contohnya: anak dapat
menghibur temannya yang menangis. Permainan peran dapat membuat
anak memerankan dirinya sebagai individu lain dengan emosi yang
menyertainya sehingga anak akan mulai belajar mengerti keadaan orang
lain. Jadi, menangani emosi orang lain termasuk seni yang mantap
untuk menjalin hubungan sehingga membutuhkan keterampilan emosi.
Dengan landasan ini keterampilan berhubungan dengan orang lain
menjadi lebih matang (Goleman, 2015)
