Pada tahun 1975, The American Marketing Association (AMA)
menyelenggarakan lokakarya yang pertama tentang “Ecological
Marketing”, yang merupakan buku pertama tentang green marketing.
Menurut AMA, green marketing adalah pemasaran produk yang ditekankan
pada keselamatan lingkungan (www.ama.ord, 2017). Oleh sebab itu, green
marketing meliputi hampir seluruh aktivitas perusahaan. Istilah serupa
dengan green marketing yang sering digunakan adalah ecological
marketing, environmental marketing, dan sustainable marketing. Green
marketing makin berkembang seiring dengan meningkatnya perhatian
masyarakat akan isu-isu tentang lingkungan, sehingga menuntut adanya
tanggungjawab dari berbagai sektor dan pelaku bisnis dalam melakukan
aktivitas pemasaran yang berkelanjutan bagi lingkungan. Menurut Salmon
dan Stewart (dalam Irandust and Bamdad, 2014) green marketing adalah
strategi pemasaran yang mendukung lingkungan dengan menciptakan
keuntungan terhadap lingkungan. Hal ini didasari oleh apa yang konsumen
harapkan dari perusahaan, yaitu agar perusahaan atau produsen lebih
memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup dalam seluruh proses atau
tahapan produksinya agar dapat mengurangi dampak kerusakan terhadap
lingkungan.
Tujuan dari green marketing tidak hanya untuk mendapatkan profit
sebagai satu-satunya tujuan perusahaan, tetapi adanya tambahan kepedulian
terhadap lingkungan hidup. John Grant (2007) membagi tujuan green
marketing menjadi 3 tahap yaitu:
a. Green, bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik bahwa
merek atau perusahaan terkait merupakan perusahaan yang peduli
kepada kelangsungan lingkungan hidup. Tahapan ini merupakan
tahapan awal bagi perusahaan yang menerapkan konsep green
marketing.
b. Greener, selain untuk komersialisasi sebagai tujuan utama
perusahaan, tetapi juga untuk mencapai tujuan yang berpengaruh
kepada lingkungan hidup. Perusahaan mencoba mengubah gaya
konsumen terkait dengan cara konsumsi atau penggunaan produk,
dengan menerapkan langsung teknologi atau perubahan itu secara
langsung terhadap produk, atau mengedukasi kepada konsumen
melalui media promosinya. Misalnya penghematan kertas yaitu
dengan cara substitusi produk kertas menggunakan kertas bekas
yang telah didaur ulang, penghematan air untuk produksi suatu
barang, atau penghematan listrik dengan menerapkan teknologi
tertentu.
c. Greenest, dimana perusahaan berusaha mengubah budaya konsumen
menuju ke arah yang lebih peduli akan lingkungan hidup. Budaya
konsumen yang diharapkan adalah kepedulian terhadap lingkungan
dalam semua aktivitas tanpa terpengaruh oleh produk perusahaan
yang ditawarkan.
Komponen-komponen yang terdapat dalam green marketing adalah sebagai
berikut (Wu and Chen, 2014):
a. Green customers, merupakan orang-orang yang melakukan pembelian
dan mengkonsumsi produk-produk yang aman bagi tubuh dan
lingkungannya.
b. Green production process, merupakan suatu cara produksi dengan
teknologi yang membatasi polusi atau memiliki manfaat terhadap
lingkungan.
c. Green financial affairs, merupakan jenis-jenis pendekatan akuntansi
yang mencoba untuk mempertimbangkan niali-nilai keuangan dan
moneter untuk investasi ekologi dan kerusakan hutan.
d. Reasons of being green, merupakan sebuah alasan bagi seseorang atau
perusahaan untuk mengubah perilakunya untuk peduli terhadap
lingkungan
