Penggunaan pendekatan atau perspektif yang beragam atas kepemimpinan, selain
melahirkan definisi kepemimpinan yang beragam juga melahirkan teori kepemimpinan
yang beragam pula. Setiap pendekatan yang digunakan melahirkan berbagai macam
teori kepemimpinan. Kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi
suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Sumber dari pengaruh ini bisa fomal,
seperti misalnya yang disediakan oleh pemilikan peringkat manjerial dalam suatu
organisasi. Karena posisi manajemen muncul bersama suatu tingkat wewenang
yang ditunjuk seacara formal, seorang dapat menjalankan suatu peran
kepemimpinan semata-mata karena kedudukannya dalam organisasi itu. Tetapi
tidak semua pemimpin itu manajer; dan sebaliknya, tidak semua manajer itu
pemimpin. Hanya karena suatu organisasi memberikan manajernya hak formal
tertentu tidak merupakan jaminan bahwa mereka akan mampu untuk memimpin
dengan efektif.
Sering dijumpai bahwa kepemimpinan yang tidak didukung (nonsantioned) yaitu
kemampuan untuk mempengaruhi apa yang timbul di luar struktur formal
organisasi itu, sama atau lebih penting daridapa pengaruh formal. Dengan kata
lain, pemimpin dapat muncul dari dalam suatu kelompok juga lewat pengangkatan
formal untuk memimpin suatu kelompok (Robbins, 2006).
Luthans (2006) mendefinisikan kepemimpinan sebagai sekelompok proses,
kepribadian, pemenuhan, perilaku tertentu, persuasi, wewenang, pencapaian tujuan,
interaksi, perbedaan peran, inisiasi struktur, dan kombinasi dari dua atau lebih dari hal-
hal tersebut.
Khuntia dan Suar (2004) menyatakan bahwa semua teori mengenai kepemimpinan
menekankan pada tiga gagasan yang dibangun baik secara bersama-sama maupun
terpisah yaitu: (1) rasionalitas, perilaku, dan kepribadian pemimpin; (2) rasionalitas,
perilaku, dan kepribadian pengikut; dan (3) faktor-faktor yang berhubungan dengan
pelaksanaan tugas, iklim organisasi, dan budaya.
Menurut Rivai dan Mulyadi (2012), kepemimpinan pada dasarnya adalah melibatkan
orang lain, melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata antara pemimpin dan
anggota kelompok, menggerakkan kemampuan dengan menggunakan berbagai bentuk
kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku bawahan, dan menyangkut nilai. Empat
sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan
organisasi, yaitu: (1) kecerdasan, (2) kedewasaan, (3) motivasi diri dan dorongan
berprestasi, dan (4) sikap hubungan kemanusiaan.
Sementara itu Yukl (2012), mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan
individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu
memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi.
Kepemimpinan juga terkait dengan sebuah proses yang disengaja dari seseorang
untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain untuk
membimbing, membuat struktur, memfasilitasi aktivitas dan hubungan kelompok
dalam suatu organisasi (Yukl, 2012).
Wilson (2015) menyatakan kepemimpinan sebagai proses psikologis dalam menerima
tanggung jawab tugas, diri sendiri, dan nasib orang lain, dari beberapa definisi
kepemimpinan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan
suatu kemampuan untuk mempengaruhi semangat, kegairahan, keamanan, kualitas
kerja dan prestasi organisasi, serta kemampuan memberikan peranan dalam mendorong
individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu adanya proses
serta hubungan antara pemimpin dan pengikut, adanya pengaruh sosial, peran
kepemimpinan ada di hampir setiap level di organisasi, dan adanya fokus pada
pencapaian tujuan.
Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam
mempengaruhi perilaku orang lain. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku
yang dipergunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi
perilaku orang lain. Masing-masing gaya tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan.
Seorang pemimpin akan menggunakan gaya kepemimpinan sesuai kemampuan dan
kepribadiannya. Setiap pimpinan dalam memberikan perhatian untuk membina,
menggerakkan dan mengarahkan semua potensi karyawan di lingkungannya memiliki
pola yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu disebabkan
oleh gaya kepemimpinan yang berbeda-beda pula dari setiap pemimpin. Kesesuaian
antara gaya kepemimpinan, norma-norma dan kultur organisasi dipandang sebagai
suatu prasyarat kunci untuk kesuksesan prestasi tujuan organisasi (Nadira, 2014).
Hersey dan Blanchard dalam Simanjuntak dan Calam (2012) berpendapat bahwa gaya
kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu
pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut
diwujudkan.
Teori gaya kepemimpinan sering merupakan bagian dari teori kepemimpinan lainnya.
Teori-teori gaya kepemimpinan berdasarkan penelitian diantaranya adalah :
- Teori Ohio State University, Teori ini berdasarkan pada dua dimensi:
a) Dimensi consideration (dimensi perhatian terhadap bawahan) adalah tinggi
tendahnya pimpinan bertindak dan berprilaku dengan pola bersahabat dan
mendukung, menunjukkan perhatian terhadap bawahannya dan
memperhatikan kesejahteraan, indikator prilaku kepemimpinan dalam
dimensi ini adalah: Membantu bawahan dalam menyelesaikan tugas;
Menyediakan waktu untuk mendengarkan dan mendiskusikan masalah dan
keluhan yang dihadapi bawahan; Menerima saran bawahan; Memperlakukan
bawahan dengan cara yang sama; dan Memperhatikan kesejahteraan
bawahan.
b) Dimensi initiating structure (Perhatian terhadap tugas) adalah tinggi
rendahnya pimpinan mendefinisikan dan menstrukturasi dan menentukan
peran bawahannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Indikator
perilaku pemimpin dalam dimensi ini adalah: Mengkritik dan marah terhadap
bawahannya yang malas dan berkinerja rendah; Memberikan tugas kepada
bawahannya secara rinci; Mengingatkan bawahan untuk mengikuti prosedur
standar kerja dan standar kinerja; Menentukan target keluaran; - Teori University of Michigan
a) Perilaku berorientasi pada ketugasan.
Para manajer yang efektif melakukan pekerjaan yang berbeda dengan para
bawahannya. Mereka mengkonsentrasikan dirinya pada fungsi prilaku
ketugasan seperti perencanaan, pensekedulan pekerjaan, mengoordinasi
aktivitas bawahan, menyediakan sumber-sumber dan bantuan teknis yang
diperlukan bawahan.
b) Perilaku berorientasi hubungan
Para manajer dengan gaya ini memusatkan perhatiannya pada hubungan antar
manusia. Mereka sopan dan mendukung bawahannya dengan percaya diri
serta berupaya memahami problem yang dihadapi bawahannya.
