Lingkungan kerja merupakan salah satu komponen terpenting dalam menyelesaikan
pekerjaan karyawan. Di sini yang dimaksud dengan lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada di sekitar pekerja yang dapat mempengaruhinya dalam melaksanakan tugas yang
diberikan (Rahmawanti, 2014: 2). Hal ini didukung secara teoritis oleh Sedarmayati
(2009:21) menyebutkan lingkungan kerja adalah semua alat dan bahan yang dihadapi di
sekitar pekerja, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerja, serta sistem
kerja baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok.
Mekanisme psikologis dapat terbantu untuk dijelaskan oleh sebuah teori besar yang
digunakan sebagai dasar untuk meneliti lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai, yaitu
teori perspektif psikologis (Luthans, 1985: 23). Teori ini merupakan sintesis dari berbagai
pandangan ilmiah yang berkaitan dengan psikologi perilaku dan psikologi kognitif. Luthans
(1985:23) melalui kajiannnya mengenai perilaku organisasi, mengatakan bahwa panduan
untuk mempelajari perilaku di dalam organisasi adalah dengan menggunakan pendekatan
stimulus-response. Model ini kemudian dikembangkan Luthans menjadi S-O-B-C (Stimulus-
Organism-Behavior-Consequences) dengan asumsi yang sama dengan model S-O-R.
Kelebihan yang diberikan model S-O-B-C adalah adanya consequences yang menunjukkan
orientasi yang akan dicapai melalui prilaku kerja. Setiap perilaku diarahkan kepada
peningkatan kinerja. Berdasarkan teori perspektif psikologis yang menganut model S-O-R
yang kemudian dikembangkan oleh Luthans menjadi model S-O-B-C maka motivasi dan
lingkungan kerja dapat ditempatkan stimulus (S) bagi terbentuknya kinerja pegawai sebagai
respon (R/B) yang dilandasi oleh motif dan sikap yang berkembang dalam organisasi (O)
individu pegawai.
