Kategori Turnover


Mobley et al. (1978) mengelompokkan berhentinya karyawan dari
perusahaan berdasarkan siapa yang memunculkan inisiatif untuk berhenti kerja
dalam 2 kategori :

  1. Turnover yang terjadi sukarela (Voluntary turnover)
    Terjadi apabila karyawan memutuskan baik secara personal ataupun
    disebabkan oleh alasan profesional lainnya untuk menghentikan
    hubungan kerja dengan perusahaan, misalnya karyawan berkeinginan
    untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik ditempat lain .
  2. Turnover yang dipisahkan (Unvoluntary turnover)
    Terjadi apabila pihak manajemen/pemberi kerja merasa perlu untuk
    memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya dikarenakan tidak ada
    kecocokan atau penyesuaian harapan dan nilai-nilai antara pihak
    perusahaan dengan karyawan yang bersangkutan atau mungkin pula
    disebabkan oleh adanya permasalahan ekonomi yang dialami perusahaan.
    Dalam penelitian ini, pergantian karyawan lebih difokuskan pada
    voluntary turnover, yaitu yang terjadi secara sukarela berdasarkan keinginan dari
    dalam diri karyawan itu sendiri. Alasannya, jenis turnover tersebut dianggap
    merugikan perusahaan sehingga perlu diusahakan pengendaliannya.
    Menurut Dalton et al. (1981) voluntary turnover dapat dibedakan atas
    dasar sifatnya menjadi 2 yaitu :
  3. Avoidable voluntary turnover (dapat dihindarkan)
    Avoidable voluntary turnover timbul karena alasan upah yang lebih
    baik di perusahaan lain, kondisi kerja yang lebih baik di organisasi
    lain, prestasi kerja yang lebih baik di perusahaan lain, masalah dengan
    pimpinan/administrasi yang ada, serta adanya alternatif tempat
    pekerjaan lain.
  4. Unavoidable voluntary turnover (tidak dapat dihindarkan).
    Unavoidable voluntary turnover timbul karena alasan pindah ke daerah
    lain karena mengikuti pasangan, perubahan arah karir individu, tinggal
    di rumah mengasuh anak, kehamilan. Dalam studi yang dilakukan,
    variabel ini digunakan dalam cakupan luas meliputi keseluruhan
    tindakan penarikan diri (withdrawal cognitions) yang dilakukan
    karyawan.
    Pada dasarnya turnover dapat menjadi fungsional apabila karyawan yang
    mengundurkan diri adalah karyawan yang kurang berprestasi dalam arti tidak
    potensial, sehingga akan terbuka kesempatan bagi masuknya para pekerja yang
    lebih kompeten. Tetapi turnover menjadi tidak fungsional jika dengan keluarnya
    karyawan, perusahaan justru mengalami kerugian, antara lain kerugian yang
    disebabkan oleh munculnya biaya-biaya pergantian karyawan yaitu biaya yang
    berhubungan dengan pesangon, hilangnya efisiensi karyawan sebelum terjadi
    pelepasan dan biaya karena adanya jabatan yang lowong selama pencarian
    seorang pengganti serta biaya-biaya perekrutan untuk mendapatkan karyawan
    baru. Jadi dapat dikatakan pula turnover akan memberikan efek beruntun yang
    akan terus berlangsung sampai organisasi mendapatkan pengganti yang
    sepenuhnya menguasai untuk mengganti posisi karyawan yang melakukan
    turnover tersebut.
    Gejala turnover karyawan tidak selalu diukur secara langsung sebagai
    suatu gejala berpindahnya atau keluarnya karyawan dari suatu organisasi, tetapi
    dapat dilakukan dengan pengukuran intentions atau niat untuk melakukan perilaku
    turnover, dengan kata lain pengukuran turnover intentions akan menunjukkan
    seberapa kuat niat atau keinginan seseorang karyawan untuk keluar dari tempat
    bekerjanya sekarang dan berpindah ke perusahaan lain. Dari sini tampak bahwa
    perilaku turnover selalu didahului oleh niat atau intentions seseorang untuk keluar
    dari organisasi.