Manajemen Laba


Manajemen laba menurut Scott (2015:445) adalah pilihan yang dilakukan oleh
manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi, atau aksi nyata, yang
mempengaruhi laba sehingga mencapai sasaran dengan melaporkan laba tertentu.
Menurut Fisher dan Rosenzweig dalam Sulisyanto (2008), manajemen laba adalah
tindakan manajer untuk menaikkan (menurunkan) laba periode berjalan dari sebuah
perusahaan yang dikelolanya tanpa menyebabkan kenaikkan (penurunan)
keuntungan ekonomi perusahaan jangka panjang. Terdapat tiga hipotesis PAT
(Positive Accounting Theory) yang menjadi dasar pemikiran mengenai manajemen
laba menurut Watts dan Zimmeman dalam Deegan & Unerman (2011:19) yaitu:

  1. Bonus Plan Hypothesis
    Hipotesis ini menunjukkan bahwa manajer pada perusahaan yang akan
    memberikan bonus, cenderung lebih memilih metode akuntansi yang dapat
    menaikkan laba periode satu ke periode berikutnya. Konsep ini memotivasi manajer
    untuk mengelola laba. Manajer akan mengelola laba pada laporan keuangan agar
    selalu bisa mencapai tingkat kinerja yang memberikan bonus.
  2. Debt Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis)
    Hipotesis ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menghadapi kesulitan
    membayar utang akan membuat manajer perusahaan mengelola laba yang dapat
    menaikkan laba dan pendapatan, serta cenderung melanggar perjanjian utang
    apabila hal tersebut memberikan keuntungan dan manfaat. Keuntungan tersebut
    berupa mengelola laba agar kewajiban utang dapat ditunda untuk periode
    berikutnya sehingga pihak yang ingin mengetahui kondisi perusahaan memperoleh
    informasi yang salah.
  3. Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis)
    Hipotesis ini menunjukkan jika biaya politis semakin besar maka manajer
    memilih metode akuntansi yang akan memperkecil laba dengan menggunakan laba
    periode sekarang ke laba periode berikutnya. Konsep ini membahas bahwa manajer
    perusahaan cenderung melanggar regulasi pemerintah. Manajer akan mengelola
    laba agar kewajiban pembayaran tidak terlalu tinggi sehingga alokasi laba sesuai
    dengan kemauan perusahaan.
    Scott (2015:446) membagi manajemen laba yang mungkin dilakukan oleh para
    manajer perusahaan ke dalam empat jenis pola manajemen laba yaitu:
  4. Cuci Bersih (Taking a Bath)
    Pola ini terjadi pada periode sulit, kondisi buruk yang tidak menguntungkan
    apapun pada saat terjadi reorganisasi, termasuk pengangkatan CEO baru. Manajer
    melakukan kerugian, mungkin dalam jumlah yang besar. Manajer berharap laba
    pada periode mendatang dapat meningkat karena berkurangnya beban periode
    mendatang.
  5. Menurunkan Laba (Income Minimization)
    Pola ini dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang tinggi dengan
    cara seperti pada pola taking a bath. Hal ini dilakukan pada saat profitabilitas tinggi
    dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis sekaligus sebagai
    upaya menyimpan laba sehingga jika laba periode mandatang mengalami
    penurunan drastis dapat diatasi dengan mengambil simpanan laba periode berjalan.
  6. Menaikkan Laba (Income Maximization)
    Pola ini dilakukan pada saat laba mengalami penurunan. Kebalikan dari income
    minimization, income maximization dilakukan dengan cara mengambil simpanan
    laba periode sebelumnya ataupun menarik laba periode yang akan datang, misalnya
    dengan menunda pembebanan biaya. Pola ini dilakukan atas dasar motivasi bonus,
    motivasi penghindaran pelanggaran perjanjian utang, pada penawaran saham
    perdana dan musiman, ataupun untuk menghindari turunnya harga saham sacara
    drastis.
  7. Perataan Laba (Income Smoothing)
    Perataan laba dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang
    dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
    umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
    Pencapaian manajemen laba dalam penelitian ini menggunakan komponen
    akrual yang berfokus pada discretionary accruals dan dihitung dari total akrual,
    karena total akrual dapat menangkap adanya indikasi manajemen laba. Total akrual
    merupakan selisih antara laba bersih perusahaan terhadap aliran kas dari operasi
    perusahaan pada periode yang sama. Langkah selanjutnya adalah menentukan nilai
    ekspektasi akrual atau nondiscretionary accruals, kemudian melakukan
    perhitungan discretionary accruals dengan menggunakan persamaan:
    DA/Ait = TAit / Ait-1 – {NDAit}…………….(2.1)
    Hasil perhitungan yang menunjukkan adanya praktek manajemen laba adalah
    nilai discretionary accruals perusahaan pada tahun yang diprediksi. Nilai
    discretionary accruals positif berarti perusahaan telah melakukan upaya untuk
    menaikkan laba, sedangkan untuk nilai discretionary accruals negatif berarti
    perusahaan telah berupaya menurunkan laba. Apabila perusahaan tidak melakukan
    praktek manajemen laba maka nilai discretionary accruals adalah nol