Manajemen Laba


Manajemen laba adalah pilihan manajer tentang kebijakan
akuntansi untuk mencapai tujuan khusus (Rahmawati, 2012).
Manajemen laba digunakan untuk membuat laporan keuangan yang
baik. Adanya keuangan yang baik tentu saja para investor tertarik
membeli saham diperusahaan tersebut karena dinilai memiliki kinerja
yang baik.
Menurut (Wirakusuma, 2016) Manajemen laba adalah suatu
proses yang disengaja, dengan batasan standar akuntansi keuangan
untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu.Menurut
Schipper dalam Riske dan Basuki ( 2013) manajemen laba merupakan
suatu kondisi dimana manajemen melakukan intervensi dalam proses
penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat
menaikkan, meratakan, dan menurunkan laba. Manajemen laba adalah
salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan
keuangan, dan menambah bias dalam laporan keuangan serta dapat
menggangu pemakai laporan keuangan yang percaya pada angka hasil
rekayasa tersebut sebagai angka real atau tanpa rekayasa.
Manajemen laba merupakan sifat akuntansi yang banyak
mengandung taksiran (estimasi), pertimbangan (judgment) dan sifat
accrual membuka peluang untuk bisa mengatur laba(Sofyan Harahap,
2011). Manajemen laba(earning management) dilakukan dengan
mempermainkan komponen akrual dalam laporan keuangan atau
memanipulasi, karena akrual adalah komponen yang mudah untuk
dipermainkan sesuai keinginan ataupun tujuan orang yang melakukan
pecatatan laporan keuangan.
Manajemen laba bukanlah suatu hal yang merugikan selama
dilakukan dalam koridor-koridor peluang, manajemen laba tidak
selalu diartikan dengan proses manipulasi laporan keuangan karena
terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dan bukan sebagai
suatu larangan (Kusumawardhani, 2012). Perilaku manajemen laba
merupakan salah satu bentuk tindakan creative accounting dari
manajer, tentunya tidak muncul dengan sendirinya, melainkan ada
motivasi ekstrinsik dibalik perilaku tersebut(Dedhy Sulistiawan,
2011).
Manajer mengelola laba bersih menggunakan pertimbangan-
pertimbangan. Menurut Rahmawati (2012) pertimbangan-
pertimbangan tersebut meliputi :

  1. Mengendalikan bermacam-macam akrual dimana akrual
    didefinisikan secara luas termasuk porsi item pendapatan dan
    biaya pada laporan rugi laba yang tidak mempresentasikan aliran
    kas
  2. Perubahan kebijakan akuntansi.
    Manajer menggunakan akrual untuk mengelola earnings dalam
    memaksimalkan bonus. Perilaku akrual tersebut digunakan sebagai
    tujuan pencapaian bonus. Manajemen laba terdiri dari beberapa
    macam yaitu :
  3. Taking a bath : pola ini digunakan perusahaan dalam kondisi tertekan.
    Manajer cenderung melaporkan laba yang rendah dengan harapan
    meningkat dimasa depan.
  4. Minimisasi laba : pola ini digunakan ketika perusahaan memiliki laba
    yang tinggi, untuk mengurangi visilibitasnya manajer melakukan
    manajemen laba.
  5. Maksimisasi laba : pola ini digunakan ketika manajer menginginkan
    kenaikan bonus dan saat dihadapkan pada perjanjian hutang yang
    tinggi dan tidak dapat terbayarkan
  6. Perataan laba : pola ini digunakan untuk mengantisipasi kondisi yang
    akan dihadapi oleh perusahaan.
    Model-model pengukuran discretionary accruals untuk
    mengasumsikan bahwa adanya komponen non- discretionary accruals
    berasal dari total accruals.Beberapa bukti empiris menunjukkan
    bahwa perusahaan secara aktif mempraktikkan earnings management
    apabila memanipulasi laporan keuangan maka disimpulkan earnings
    quality bersifat positif. Pengujian Dechow et al dalam Ahim
    Abdurahman (2014) mengungkapkan model-model pengukuranya
    sebagai berikut :
  7. The Healy Model, yaitu menguji adanya manajemen laba dengan
    membandingkan rata-rata total accruals dengan menggunakan skala
    selisih total asset terhadap variabel pemisah manajemen laba.
  8. The Angelo Model, yaitu menguji adanya earnings management
    dengan menghitung perbedaan pada total accruals dengan
    mengasumsikan jika perbedaan tersebut diharapkan tidak ada, model
    ini menggunakan total accrual periode sebelumnya yang dibagi
    dengan selisih total assets sebagai ukuran non- discretionary accruals
  9. The Jones Model, yaitu mengansumsikan bahwa non- discretionary
    accruals bersifat konstan, mengontrol perubahan lingkungan ekonomi
    perusahaan pada non- discretionary accruals.
  10. The Modified Jones Model, yaitu didesain untuk mengurangi adanya
    dugaan pada jones model dalam kesalahan mengukur discretionary
    accruals, model ini diestimasikan pada periode kejadian.
  11. The Industry Model, yaitu mengasumsikan bahwa non- discretionary
    accruals nilainya selalu konstan dan bahwa variasi dalam faktor-
    faktor penentu non- discretionary accruals pada umumnya.
    Dalam akuntansi manajemen laba bukanlah suatu praktik yang
    dilarang. Hal ini karena manajemen laba bukanlah tindakan penipuan,
    fraud atau tindakan kejahatan lainya. Manajemen laba termasuk
    tindakan manipulasi laporan keuangan dan mengikuti kaidah-kaidah
    dalam metode akuntansi. Tetapi jika suatu perusahaan melakukan
    manajemen laba terlalu tinggi maka akan merugikan pihak investor
    yang sudah percaya pada laporan keuangan yang dimanipulasi, karena
    investor menanamkan modalnya pada suatu perusahaan dengan
    keinginan imbal balik laba yang tinggi. Investor melihat kinerja
    perusahaan berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan suatu
    perusahaan. Sisi baik dari manajemen laba adalah dari kontraktor dan
    perspektif pelaporan keuangan, yaitu perspektif kontrak sejauh mana
    laba manajemen bisa baik berhubungan dengan kontrak yang efisien
    versus oportunistik bentuk teori akuntansi positif. Berdasarkan
    kontrak efisien diinginkan untuk memberikan kemampuan kepada
    manajer dalam mengelola pendapatan dalam menghadapi kontak. Sisi
    buruk dari manajemen laba adalah mengaburkan informasi kinerja
    ekonomis perusahaan dan kontroversi manajemen laba dikaitkan
    dengan etika atau moral, karena tindakan tersebut akan menyesatkan
    pemakai laporan keuangan.
    Terdapat tiga pendekatan yang bisa digunakan dalam
    memproksikan manajemen laba yaitu dengan pendekatan yang
    mendasar pada model agregat akrual yaitu model Healy, model Jones
    dan model modified Jones. Pendekatan yang mendasar pada model
    spesifik akrual yaitu model Beneish dan Beaver dan McNichols.
    Pendekatan berdasarkan distribusi frekuensi, fokusnya pada perilaku
    laba yang dikaitkan dengan spesifik benchmark yang mana
    manajemen laba dilihat dari banyaknya frekuensi perusahaan yang
    melaporkan laba atau dibawah brencmark, missal Burgstahler dan
    Dichev dan Myers dan Skinner.
    Kajian pada McNichols serta Dechow dan Skinner maka
    manajemen laba ini diproksikan dengan model spesifik akrual yaitu
    akrual modal kerja. Akrual modal kerja ini dirasa lebih tepat
    sebagaimana dari pengkajian Peasnell et al. akrual diskresioner tidak
    diestimasi berdasarkan residual, karena teknik ini dianggap relative
    rumit, maka digunakan proksi rasio akrual modal kerja dengan
    penjualan. Penggunaan penjualan sebagai deflator ini juga dilakukan
    oleh model Friedlan yang memodifikasi model DeAngelo yang
    menjadikan rasio antara perubahan total akrual dengan penjualan