Strategi Kebertahanan (Resilience Strategy)


Konsep ketahanan dalam beberapa dokumen memiliki istilah yang luas dan
tidak mengacu kepada objek analisis tertetu seperti aset/fasilitas kritis, komunitas,
ataupun wilayah. Karena itu, dalam menggambarkan komponen atau penentu
ketahanan ada ketidakpastian yang jelas untuk didefinisikan. Maka konsep ini lebih
difokuskan kepada peristiwa apa yang terjadi (peristiwa buruk alami atau buatan)
termasuk perlawanan, perlindungan, antisipasi dan kesiapsiagaan (Mulyadi dan
Hendrayati, 2021).
Dalam Bahasa Inggris, kebertahanan disebut juga dengan resilience. Kebertahanan yang dimaksudkan adalah bagaimana cara seseorang atau kelompok usaha dalam mempertahankan aktivitas budayanya dan bagaimana kebiasaan sehari- harinya. Hal ini difokuskan pada proses produksi, dan jalinan hubungan dengan orang lain, termasuk pada para karyawan dan pelanggan. Ketahanan terkait dengan kemungkinan untuk mengelola krisis, untuk meningkatkan kapasitas dari kesepakatan serta menghindari efek dramatis, yang tidak dapat diubah, atau bahkan pemulihan dan konsekuensi dari krisis atas pertahanan yang sudah ada dan sistem keamanan pada level strategi (Chifu, 2021). Menurut Damis (2018), strategi bertahan diterapkan agar perusahaan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta mempunyai kecepatan secara tekad. Bisnis yang dimiliki oleh industri kecil memiliki sifat bisnis dimanajemeni langsung oleh para pemiliknya sehingga fleksibel. Ketahanan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dapat dilihat dari kegiatan produksi yang dilakukan. Kunci keberlangsungan UMKM di tengah pandemi adalah dengan ide-ide kreatif dan inovatif (Utomo et al. 2021). Dalam era yang cepat mengalami perubahan, UMKM berada di dalam kondisi yang dinamis dan penuh ketidakpastian. UMKM perlu menerapkan strategi yang tepat agar perusahaan mampu mempertahankan usahanya, yaitu dengan memanfaatkan dan mengeksploitasi peluang yang tersedia dalam dinamika lingkungannya. UMKM memiliki keandalan bertahan dalam situasi perekonomian yang sulit seperti yang melanda Indonesia tahun 1998. Untuk itu dalam upaya strategi kebertahan UMKM, perlu adanya keunggulan kompetitif dan kesadaran daya saing terhadap perubahan (Lestari, 2019). 35
Pada umumnya, para peneliti berpendapat bahwa ketahanan membutuhkan
pemikiran yang adaptif pada bisnis. Pemikiran ini adalah pola pikir dimana bisnis dapat
dan mampu membentuk perilaku mereka dan melatih fleksibilitas sesuai dengan
perubahan yang terjadi pada lingkungan eksternal. Salah satu darana penting untuk
bisnis dapat bertahan dalam menghadapi gangguan eksternal adalah dengan inovasi.
Tuntutan konsumen dan perubahan permintaan pelanggan dapat diatasi dengan
kebijakan yang inovataif sehingga daya saing dan ketahanan terjaga (Li et al., 2021).