Menurut D.Ancok (2012) perilaku inovatif dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu modal manusia, manusia kepemimpinan, dan modal struktural
organisasi. Faktor lain juga turut serta mempengaruhi perilaku inovatif karyawan
adalah kondisi lingkungan kerja yang kondusif dan kreatif. Pendapat tersebut
menunjukkan bahwa lingkungan kerja diprediksi dapat mempengaruhi munculnya
perilaku inovatif pada karyawan (D.Ancok, 2012). Selain itu menurut Ejigu &
Desalegn (2023) salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku
inovasi karyawan adalah dukungan organisasi. Inovasi yang dilakukan merupakan
kunci bagi sebuah organisasi agar dapat mempertahankan superiritas dalam
persaingan. Sebuah organisasi yang memiliki dan mampu mengaplikasikan inovasi
akan mendukungnya dalam mencapai keunggulan dalam bersaing dan mampu
mempertahankan eksistensinya. Dukungan organisasi memiliki peran penting pada
perilaku inovasi karyawan. Karyawan yang secara aktif diberi dukungan oleh
organisasi tempat kerjanya cenderung akan memberikan kinerja yang positif untuk
ikut serta membantu organisasi dalam pembentukan inovasi dan berupaya untuk
dapat melaksanakan inovasi tersebut.
Menurut Nijenhuis et al., (2017), terdapat faktor-faktor yang diperkirakan
dapat meningkatkan munculnya perilaku inovatif karyawan. Berikut beberapa
faktor eksternal maupun faktor internal, yaitu;
a. Faktor Eksternal:
- Competitive pressures. Semakin tingginya tekanan untuk berkompetisi
mampu mendorong karyawan untuk bekerja lebih baik dan memiliki efek
positif untuk munculnya perilaku inovatif. - Social-Political pressures. Organisasi yang memiliki dukungan dari
pemerintah harus tegas memberi hasil kerja yang memuaskan jika tetap
ingin mendapat dukungan. Sehingga pempimpin dan karyawan harus
memunculkan perilaku inovasi agar tetap memberi hasil kerja yang terus
berkembang dan lebih baik.
b. Faktor Internal: - Interaksi dengan atasan (kepemimpinan), karyawan yang memiliki
hubungan yang positif dengan atasan mereka lebih mungkin untuk
menunjukkan perilaku inovatif kerja dan mampu memberi keyakinan
bahwa perilaku inovatif mereka akan menghasilkan keuntungan kinerja.
Hubungan yang berkualitas sering ditandai dengan saling percaya dan
menghormati. - Interaksi dengan grup rekan kerja (team work), karyawan yang memiliki
hubungan baik dengan rekan kerja lebih mungkin memudahkan mereka
mengimplementasikan ide baru mereka juga meningkatkan idea
generation di dalam sebuah grup rekan kerja mereka. Dan hal ini
memudahkan perilaku inovatif kerja untuk berkembang.
Pendapat lain tentang faktor yang mempengaruhi perilaku inovatif menurut
pendapat Etikariena & Muluk (2014) Berikut beberapa faktor eksternal maupun
faktor internal, yaitu;
a. Faktor internal
Faktor internal yang dimaksudkan adalah faktor yang berasal dari dalam diri
karyawan yang mampu menggerakkan karyawan untuk memunculkan perilaku
inovatif. Faktor ini penting karena karyawan merupakan pelaku utama yang
menggerakkan suatu ide dapat dijalankan. Faktor internal yang dapat
mempengaruhi perilaku inovatif pada karyawan, yaitu: - Tipe kepribadian
Tipe kepribadian karyawan merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi munculnya perilaku inovatif karyawan (Etikariena & Muluk, 2014).
26
Hal ini dikarenakan ketika karyawan memiliki kepribadian yang mendorong pada
perubahan-perubahan diri kearah yang lebih baik maka karyawan juga akan
terdorong untuk selalu memperbaiki dirinya. Ketika karyawan melakukan
perubahan-perubahan yang lebih baik maka karyawan akan berusaha mencari
alternatif-alternatif solusi agar dirinya tidak kembali menjadi pribadi yang
ditinggalkan. Demikian, karyawan juga akan memunculkan perilaku-perilaku
inovatif yang dapat menunjang karyawan melakukan pekerjaannya dengan lebih
baik serta selalu berusaha memperbaiki hasil kerja menjadi lebih efektif. - Level Pendidikan
Karyawan yang memiliki level Pendidikan yang lebih tinggi memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk memunculkan perilaku inovatif. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi level Pendidikan yang dimiliki maka karyawan akan
memiliki wawasan yang luas sehingga mampu mengembangkan wawasan-
wawasan yang dimiliki menjadi ide-ide yang dapat direalisasikan. - Gaya penyelesaian masalah
Gaya penyelesaian masalah yang tepat akan mendorong karyawan
memunculkan perilaku inovatif sebagasi solusi maupun Tindakan preventif suatu
permasalahan. Karyawan yang memiliki gaya penyelesaian masalah problem solves
maupun problem seekers akan terdorong memunculkan penyelesaian-penyelesaian
masalah serta melakukan antisipasi permasalahan sehingga terdorong berperilaku
inovatif sebagai Tindakan preventif agar masalah tidak terjadi. Sedangkan
karyawan yang lalai terhadap setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi maka
akan cenderung untuk tidak berbuat apa-apa sehingga perilaku inovatif yang
diharapkan dimungkinan tidak muncul. - Motivasi kerja
Adanya motivasi kerja yang baik menjadikan karyawan terdorong untuk
melakukan inovasi-inovasi yang akan menjadikan karyawan tersebut menghasilkan
kinerja yang memuaskan. Sedangkan karyawan yang kurang mampu memotivasi
diri untuk menghasilkan kinerja yang baik maka akan menghasilkan kinerja yang
statis. - Keberanian mengambil resiko
27
Keberanian dalam mengambil resiko menjadikan karyawan lebih luasa dalam
mengekspresikan ide-idenya serta melakukan implementasi atas ide-ide yang
diciptakan. Berbeda Ketika karyawan dalam mengekspresikan serta
mengimplementasikan ide-idenya dengan baik. - Kondisi psikologis
Kondisi psikologis yang positif menjadikan individu lebih termotivasi untuk
menjadi lebih produktif serta bersemangat mencapai tujuan. Sehingga individu
dapat terdorong memunculkan ide-ide baru untuk dapat menjadi lebih produktif dan
mencapai tujuan.
b. Faktor eksternal
Adapun Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku inovatif pada
karyawan, yaitu (Etikariena & Muluk, 2014): - Peran pemimpin atau atasan
Pekerja yang berkualitas hanya akan memunculkan performa maksimalnya
Ketika dipimpin oleh pimpinan yang berkualitas. Pemimpin yang berkualitas
memiliki pandangan yang jauh ke depan (visioner) sehingga mampu memacu para
anggotanya dalam memunculkan perilaku inovasi serta mampu bersinergi
menggerakkan orang-orang di dalam perusahaan atau organisasi untuk mencapai
tujuan Bersama. Sebaliknya, pemimpin juga dapat menjadi penghancur bagi
perusahaannya Ketika tidak dapat menggerakkan para anggotanya untuk
melakukan perubahan dan pembaharuan. - Tipe pekerjaan
Tipe pekerjaan memiliki andil dalam mempengaruhi karyawan memunculkan
perilaku inovatif. Hal ini dikarenakan tipe pekerjaan membuat karyawan
memutuskan untuk berprilaku inovasi atau tidak. Karyawan yang dituntut untuk
melakukan pekerjaan yang dinamis akan mendorong dirinya untuk melakukan
perkembangan dan perubahan secara aktif sehingga karyawan dapat memunculkan
ide-ide inovatif yang nantinya akan menunjang pekerjaan mereka
