Sebuah organisasi yang baik harus disertai dengan nilai-nilai yang
diyakini oleh setiap elemen organisasi baik atasan maupun bawahan. Begitu
pula dengan manajemen yang islami, tentu nilai-nilainya adalah Islam. Dalam
firman Allah surat dan ayat dijelaskan tentang bagaimana manusia hidup
secara bersama atau kelompok.َّ
ۚ اِن َكَر ٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُم ْ شُعُيْةًا وَّكَتَاۤىِٕل َ لِخَعَارَفُيْاٌيٰٓاَيُّىَا النَّاس ُ اِنَّا خَلَلْنٰكُم ْ مِن ْ ذ
َ عَلِيْم ٌ خَتِيْد ّٰلله ِ اَحْلٰىكُم ْ ۗاِن َّ ا ّٰلله اَكْرَمَكُم ْ عِنْد َ ا١٣
“ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat : 13)
Ayat ini mempunyai makna bahwa manusia diciptakan Allah SWT
dari laki-laki dan perempuan dan akhirnya memiliki kebudayaan dunia yang
berkaitan tentang tata cara hidup masing-masing dari mereka. Namun Allah
mengingatkan agar manusia yang bertakwa mengikuti perintah Allah dan
menjauhi larangan Nya untuk menjadi manusia yang paling mulia. Dalam
mencapai derajat taqwa dan menjadi manusia sekaligus tentu tidak terlepas
dari interaksi dengan orang lain dan alam di sekitarnya. Kegiatan interaksi
timbal balik antar manusia dan dengan lingkungannya merupakan peristiwa
sosial yang berujung pada pengayaan budaya (Musnandar, 2013).
Menurut tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin
Shalih asy-Syawi, dalam QS. Al Hujurat ayat 13 Allah memberitahukan
bahwa Dia menciptakan anak cucu Adam dari asal usul dan diri yang satu,
semua keturunan Adam berasal dari lelaki dan perempuan yang silsilah
semuanya merujuk pada Adam dan Hawa. Allah mengembangbiakkan dari
keduanya lelaki dan perempuan yang banyak, mereka kemudian disebar dan
dijadikan “berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,” yakni suku-suku nyang besar
dan kecil. Yang demikian itu bertujuan agar saling mengenal satu sama lain,
sebab andai masing-masing orang menyendiri, tentu tidak akan tercapai tujuan
saling mengenal satu sama lain yang bisa menimbulkan saling tolong
menolong, bahu-membahu, saling mewarisi satu sama lain serta menunaikan
hak-hak kerabat.
Adanya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
bertujuan agar berbagai hal positif tersebut bisa terwujud yang bergantung
pada proses saling mengenal satu sama lain serta pemaduan nasab. Namun
ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa. Orang yang paling mulia di
antara sesame adalah yang paling bertakwa kepada Allah, paling banyak
melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan,
bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya
paling terpandang (karena level sosial).
Dan mengenai semua itu Allah “Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.” Allah mengetahui siapa di antara mereka yang bertakwa kepada
Allah baik secara lahir maupun batin, serta siapa di antara mereka yang tidak
menunaikannya, baik secara lahir maupun batin. Masing-masing akan diberi
balasan yang sesuai. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa
mengetahui nasab itu diharuskan secara syariat, karena Allah menjadikan
manusia berbangsa-banngsa dan bersuku-suku itu dengan tujuan demikian
