Hubungan Total Quality Management dengan Kinerja Manajerial


Gaspersz (2011) mendifinisikan total quality management sebagai suatu
cara meningkatkan kinerja secara terus-menerus pada setiap level operasi atau
proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, menggunakan semua
sumber daya manusia dan modal yang tersedia. Banker (1993) juga menjelaskan
bahwa Total Quality Management bertanggung jawab untuk mendeteksi hal-hal
yang tidak sesuai dengan pengendalian mutu. Hal tersebut membuat pekerja lebih
bertanggung jawab untuk pengendalian mutu, sehingga dapat meningkatkan
produktivitas kinerja.
Tujuan perusahaan dalam menghasilkan produk berkualitas adalah
tercapainya kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Ditandai dengan
berkurangnya keluhan dari para pelanggan sehingga menunjukkan performance
yang meningkat (Putro, 2010).
Karyawan harus dihargai untuk terlibat dalam inisiatif kualitas dan
diberikan pelatihan, bantuan dan pengakuan, mereka akan memahami pentingnya
peran mereka dalam pelaksanaan TQM dan akan mampu memberikan kontribusi
kepada tujuan organisasi (Mandal et al., 1998). Menurut Wilkinson (1992), tujuan
dari dimensi social dari TQM adalah untuk mempertahankan tanggung jawab
karyawanatas hasil pekerjaan (output) mereka di perusahaan dan menumbuhkan
motivasi individu untuk mencapai kualitas. Hasil atau output dari karyawan dapat
meningkatkan efektivitas TQM di seluruh organisasi yang dibina. Prioritas harus
diberikan dalam kebijakan seleksi untuk melibatkan orang-orang yang mampu
memecahkan masalah, bekerja dengan alat statistic dan bekerja dalam tim. Hal ini
diperlukan untuk memberikan pelatihan, tidak hanya tentang cara melakukan
tugas tetapi pada bekerja dalam tim, teknik perbaikan terus-menerus atau pada
manajemen waktu (Costigan,1995).
Total Quality Management membutuhkan perubahan dasar falsafah dari
setiap orang dalam perusahaan, terutama manajemen. Tanggung jawab ada pada
semua level dari manajemen, tetapi harus dikendalikan manajemen puncak, dan
implementasinya harus melibatkan semua anggota organisasi. Penelitian
Tersziovski dan Samson, 1999 (dikutip dalam, Suprantiningrum dan Zulaikha
(2003) yang meneliti mengenai elemen-elemen Total Quality Management yang
dijadikan sebagai sistem penghargaan kualitas, melakukan uji hubungan antara
faktor elemen Total Quality Management yang dipilih terhadap faktor kinerja,
mereka menyimpulkan faktor elemen total quality management mempengaruhi
kinerja. Banker et al. (1993) memberikan bukti empiris bahwa program
peningkatan kualitas seperti Total Quality Management secara individual dapat
efektif jika perusahaan telah mengimplementasikan cara perbaikan kualitas secara
berkesinambungan, dibandingkan dengan organisasi pesaing lainnya yang
mengadakan improvement dengan tidak menggunakan teknik Total Quality
Management. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Ittner dan Larcker (2003)
tidak ditemukannya bukti bahwa organisasi yang menerapkan TQM dapat
mencapai kinerja yang tinggi