Penerapan Total Quality Management


Total Quality Management merupakan suatu konsep manajemen modern yang
berusaha untuk merespons secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada, baik
yang didorong oleh kekuatan eksternal maupun internal. Total Quality
Management juga merupakan tantangan terhadap teori manajemen tradisional
yang sudah mapan. Pendekatan tradisional menekankan tujuan perusahaan pada
usaha memaksimumkan laba atau memaksimumkan kemakmuran para pemilik
perusahaan. Sedangkan TQM lebih berfokus pada tujuan perusahaan untuk
melayani kebutuhan pelanggan dengan memasok barang dan jasa yang memiliki
kualitas setinggi mungkin.
Implementasi Total Quality Management bukanlah suatu pendekatan yang
sifatnya langsung jadi atau hasilnya diperoleh dalam waktu sekejap, tetapi
membutuhkan proses terdiri dari beberapa fase sistematis. Menurut Goestch dan
Davis dalam Tjiptono (2003:343), fase implementasi TQM dikelompokkan
menjadi tiga fase yaitu:

  1. Fase Persiapan
    Fase ini terdiri atas sepuluh langkah. Sebelum langkah pertama dimulai,
    syarat utama yang harus dipenuhi adalah komitmen penuh dari manajemen
    puncak atas waktu dan sumber daya yang dibutuhkan. Langkah-langkah
    tersebut antara lain :
    a. Mambentuk Total Quality steering Committee
    Eksekutif puncak sebagai ketua steering committee menunjuk staf
    terdekat sebagai anggotanya serta pejabat senior dan serikat pekerja.
    b. Membentuk Tim
    Steering committee perlu mengadakan suatu sesi pembentukan tim
    sebelum memulai kegiatan TQM. Langkah ini membutuhkan konsultan
    dari luar perusahaan.
    c. Pelatihan TQM
    Steering committee membutuhkan pelatihan yang berkaitan dengan
    filosofi, dilakukan dengan mendatangkan konsultan dari luar
    perusahaan. Pelatihan ini harus diteruskan dalam jangka panjang
    melalui pengembangan diri dan mengikuti seminar-seminar relevan.
    d. Menyusun Pernyatan Visi dan Prinsip sebagai Pedoman
    Usaha nyata pertama dalam pelaksanaan TQM menyusun persyaratan
    visi organisasi dan prinsip-prinsip pedoman operasi perusahaan.
    Umumnya eksekutif puncak memprakorsai diskusi dengan
    memperhatikan visi dan prinsip-prinsip anggota steering committee.
    Tujuannya adalah supaya dapat menghasilkan dokumen singkat dan
    bermakna mencerminkan harapan dan asprisiasi perusahaan.
    e. Menyusun Tujuan Umum
    Steering committee menyusun tujuan umum perusahaan berdasarkan
    visi yang telah ditetapkan. Tujuan ini sendiri meliputi atas tujuan
    strategi dan tujuan taktis.
    f. Komunikasi dan Publikasi
    Eksekutif puncak dan steering committee perlu mengkomunikasikan
    setiap informasi mengenal langkah a sampai c. semua orang harus
    memahami visi, prinsip-prinsip sebagai pedoman, tujuan dan TQM.
    Mereka juga perlu mengetahui alasan diterapkan TQM.
    g. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan
    Steering committee harus secara objektif mengidentifikasi kekuatan
    dan kelemahan organisasi. Informasi ini bermanfaat sebagai pedoman
    dalam melaksanakan pendekatan terbaik dalam implementasi TQM.
    Selain itu juga berguna dalam menyoroti kekurangan-kekurangan yang
    harus diperbaiki.
    h. Identifikasi Pendukung dan Penolak
    Steering committee perlu mencoba mengidentifikasi orang-orang kunci
    yang mungkin menjadi pendukung mereka yang mungkin menolak
    TQM. Hal ini bermanfaat dalam pemilihan proyek awal dan penetapan
    anggota-anggota tim.
    i. Memperkirakan Sikap Karyawan
    Dengan bantuan dari bagian personalia atau konsultan luar, steering
    committee perlu berusaha memperkirakan sikap karyawan pada saat
    ini. Bila hal ini telah dilakukan, maka mudah diketahui apakah
    perubahan TQM berjalan efektif atau tidak.
    j. Mengukur Kepuasan Pelanggan
    Steering committee perlu berusaha mendapatkann umpan balik objektif
    dari para pelanggan guna menentukan tingkat kepuasan mereka.
    Informasi yang diperoleh sangat berguna dalam menilai efektifitas
    usaha TQM dari sisi pandang konsumen.
  2. Fase Perencanaan
    Dalam fase perencanaan terdiri dari empat langkah.
    a. Merencakan Pendekatan Implementasi, Kemudian Menggunakan
    Siklus PDCA (Plan, Do, Check, and Adjust)
    Pada langkah ini, steering committee merencanakan implementasi
    TQM. Langkah ini bersifat kontinu karena pada saat proyek
    berlangsung, informasi umpan balik akan dikembalikan pada langkah
    ini untuk melakukan perbaikan atau penyesuaian.
    b. Identifikasi Proyek
    Steering committee bertanggung jawab untuk memilih proyek awal
    TQM, yang didasarkan pada kekuatan dan kelemahan perusahaan,
    personil yang terlibat, visi, dan tujuan serta kemungkinan suksesnya.
    Proyek awal harus berhasil agar dapat memberikan dasar pengalam
    postif untuk beralih ke tantangan berikutnya yang lebih berat.
    c. Komposisi Tim
    Setelah proyek-proyek terpilih, steering committee membentuk
    komposisi tim yang akan melaksanakannya. Sebagian besar tim
    bersifat fungsional silang, yang terdiri dari berbagai departemen,
    sesuai dengan proyek yang ditangani.
  3. Fase Pelaksanaan
    Dalam fase pelaksanaan terdiri atas lima langkah :
    a. Penggiatan Tim
    Steering committee memberikan bimbingan kepada setiap tim dan
    mengaktifkan mereka. Masing-masingtim mengerjakan proyek-
    proyeknya dengan menggunakan teknik-teknik TQM yang telah
    dipelajari.
    b. Umpan Balik dari Pelanggan
    Dalam langkah ini, tim proyek memberikan informasi umpan balik
    kepada steering comitte mengenai kemajuan dan hasil-hasil yang
    dicapai. Umpan balik tersebut akan digunakan steering committee
    untuk menentukan apakah perlu dilakukan penyesuaian atau
    perebuhan.
    c. Umpan Balik dari Pelanggan
    Tim proyek khusus disebarkan untuk mengumpulkan informasi umpan
    balik dari pelanggan internal maupun eksternal. Setiap informasi ini
    diumpan balikkan kepada steering committee secara regular.
    d. Umpan Balik dari Karyawan
    Tim proyek khusus lainnya secara periodic memantau sikap dan
    kepuasan karyawan. Hal ini biasa dijalankan dengan menggunakan
    servey formal setiap tahun. Steering committee dan manajer lainnya
    perlu berhubungan dekat dengan karyawan sehingga dapat diperoleh
    informasi yang akurat mengenai sikap dan kepuasan mereka.
    e. Memodifikasi Infrastruktur
    Umpan balik yang diperoleh dari tim proyek, konsumen, dan karyawan
    akan dijadikan dasar oleh steering committee untuk melakukan
    perubahan yang diperlukan dalam infrastruktur perusahaan, misalnya
    pada prosedur dan proses, struktur organisasi, program pengakuan dan
    penghargaan prestasi, dan lain-lain.