Maslach (1981) mendefinisikan burnout sebagai kondisi dimana
individu mengalami kelelahan fisik, sinisme, kelelahan mental, berkurangnya
kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan kelelahan emosional yang
terjadi karena stres diderita dalam jangka waktu yang lama.
Perrewe dkk (Sahrah, 2017) yang mengatakan bahwa burnout
merupakan kondisi kelelahan kerja yang dialami oleh perawat, yang
disebabkan oleh faktor personal, keluarga dan lingkungan kerja. Menurut
Greenberg (2002) burnout adalah reaksi dari stres kerja baik secara psikologis,
psikofisiologis dan perilaku yang bersifat merugikan. Burnout merupakan
suatu hal kompleks yang dapat dilihat dari reaksi secara psikologis, pikiran,
fisik dan tingkah laku atas suatu pekerjaan, sehingga dapat merugikan individu
maupun organisasi.
Menurut Ivancevich & Matteson (2008) mengungkapkan bahwa
burnout merupakan suatu proses psikologis yang dihasilkan oleh stres
pekerjaan yang tidak terlepaskan dan meghasilkan kelelahan emosi, perubahan
kepribadian, dan perasaan pencapaian yang menurun. Burnout cenderung
menjadi masalah tertentu di antara orang yang pekerjaannya memerlukan
kontak yang mendalam dengan dan/atau memiliki taggung jawab atas orang
lain.
Burnout merupakan perasaan umum dari keletihan yang berkembang
ketika seseorang pada saat yang sama mengalami terlalu banyak tekanan dan
terlalu sedikit sumber kepuasan (Moorhead & Griffin, 2013). Schermerhon
dkk (2008) menyatakan burnout ditunjukkan dengan adanya kehilangan minat
dan kepuasan terhadap pekerjaan karena kondisi kerja yang penuh tekanan.
Ketika seseorang mengalami burnout, dia merasa lelah emosional dan fisik
dan dengan demikian tidak dapat menangani secara positif tanggung jawab
dan peluang kerja.
McShane & Von Glinow (2008) mendefinisikan bahwa burnout adalah
konsekuensi stres tertentu yang mengacu pada proses kelelahan emosional,
sinisme, dan mengurangi perasaan pencapaian pribadi. Kelelahan emosional,
tahap pertama ditandai oleh kurangnya energi, kelelahan, dan perasaan bahwa
sumber daya emosional seseorang telah habis. Hal ini diikuti oleh sinisme
(juga disebut dengan depersonalisasi), yang dicirikan oleh sikap acuh tak acuh
terhadap kerja, pelepasan emosi dari klien, pandangan sinis organisasi dan
kecenderungan untuk secara ketat mengikuti aturan dan peraturan daripada
beradaptasi dengan kebutuhan orang lain. Tahap terakhir dari burnout, yag
disebut pengurangan prestasi pribadi, mensyaratkan perasaan kepercayaan diri
yang berkurang pada kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan
dengan baik. Dalam situasi seperti itu, karyawan mengembangkan rasa
ketidaknyamanan yang dipelajari karena mereka tidak lagi percaya bahwa
upaya mereka membuat perbedaan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
burnout adalah sebuah kondisi kelelahan pada seseorang baik secara fisik,
psikis, maupun emosi yang diakibatkan oleh tekanan yang terlalu banyak dan
stres yang berkepanjangan
