Menurut Schabracq, dkk (2003) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi work-life balance seseorang, di antaranya sebagai berikut:
a. Karakteristik kepribadian. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan kerja
dan di luar kerja, terdapat hubungan antara tipe attachment yang
didapatkan individu ketika masih kecil dengan work-life balance.
Individu yang memiliki secure attachment cenderung mengalami
positive spoilover dibandingkan individu yang memiliki insecure
attachment.
b. Karakterisik keluarga. Menjadi salah satu aspek penting yang dapat
menentukan ada tidaknya konflik anatara pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Misalnya konflik peran dan ambiguinitas antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi. Misalnya konflik peran dan ambigiunitas peran
dalam keluarga dapat mempengaruhi work-life balance.
c. Karakteristik pekerjaan. Meliputi pola kerja, beban kerja dan jumlah
waktu yang digunakan untuk bekerja dapat memicu adanya konflik baik
konflik dalam pekerjaan maupun konflik dalam kehidupan pribadi.
d. Sikap. Merupakan evaluasi terhadap berbagai aspek dalam dunia sosial.
Terdapat tiga komponen di dalam sikap seperti pengetahuan, perasaan-
perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Sikap dari masing-masing
individu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi work-life
balance.
Menurut Poulose (2014) faktor yang mempengaruhi work-life balance
terbagi menjadi empat, yaitu faktor individu, faktor organisasi, faktor
lingkungan sosial, dan faktor-faktor lainnya. Keempat faktor tersebut terdiri
dari faktor-faktor berikut:
a. Individu
- Kepribadian. Kepribadian adalah akumulasi dari berbagai cara
seorang individu bereaksi terhadap lingkungan dan berinteraksi
dengan orang lain. Kepribadian manusia terdiri dari beberapa
faktor utama yaitu ekstraversi (tingkat kesenangan terhadap
hubungan), agreeableness/keramahan (tingkat kepatuhan terhadap
orang lain), kesadaran/sifat berhati-hati (ketekunan dan motivasi
dalam mencapai tujuan), neurotisme (ketahanan terhadap stres),
dan keterbukaan terhadap pengalaman. Ekstraversi, kesadaran,
keramahan, dan keterbukaan terhadap pengalaman berkorelasi
negatif dengan work-family conflict, sedangkan neurotisme
berkorelasi positif dengan work-family conflict. - Psychological well-being. Psychological well-being mengacu pada
sifat-sifat psikologis yang positif seperti penerimaan diri,
kepuasan, harapan, dan optimisme. Psychological well-being
berkorelasi positif dengan work-life balance. Pekerja dengan
psychological well-being yang tinggi memiliki tingkat work-life
balance yang tinggi pula. - Kecerdasan Emosi. Kecerdasan emosi adalah kemampuan adaptif
seseorang dalam mengenali emosi, mengekspresikan emosi,
meregulasi emosi, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang
lain. Kecerdasan emosi berkorelasi positif dengan work-life
balance. Individu dengan kecerdasan emosi yang tinggi memiliki
work-life balance yang tinggi pula.
b. Organisasi - Pekerjaan. Susunan pekerjaan yang fleksibel dapat membantu
karyawan untuk mencapai kehidupan kerja dan non-kerja yang
berjalan beriringan. Dengan kata lain, susunan pekerjaan yang
fleksibel dapat meminimalisir konflik antara kehidupan kerja dan
non-kerja serta meningkatkan work-life balance karyawan. - Work-life balance policies. Kebijakan-kebijakan dan program-
program perusahaan dapat membantu karyawan untuk mencapai
work-life balance. Kebijakan-kebijakan yang dimaksud adalah
fleksibilitas pekerjaan karyawan, cuti, jam kerja, dan fasilitas
pengasuhan anak. - Dukungan. Dukungan dari atasan, organisasi, dan rekan kerja
berhubungan positif dengan work-life balance. Semakin tinggi
dukungan yang diterima oleh karyawan, semakin tinggi pula work-
life balance karyawan tersebut. - Stres Kerja. Stres kerja dapat didefinisikan sebagai persepsi
individu terhadap pekerjaan yang dianggapnya sebagai ancaman
serta ketidaknyamanan individu di lingkungan kerjanya. Stres kerja
berhubungan dengan kesehatan, work-life conflict, serta work-life
balance seseorang. Stres kerja dapat menyebabkan tidak
tercapainya work-life balance. - Teknologi. Teknologi dapat menyebabkan tercapainya work-life
balance maupun tidak tercapainya work-life balance. Teknologi
memfasilitasi kemudahan akses terhadap pekerjaan, sehingga
karyawan dapat bekerja kapan saja dan di mana saja. Hal ini dapat
berdampak positif maupun negatif terhadap tercapainya work-life
balance. - Peran. Konflik peran, ambiguitas peran, serta jam kerja yang
berlebihan memiliki andil yang besar dalam munculnya work-life
conflict. Semakin tinggi kekacauan peran yang terjadi, semakin
sulit pula tercapainya work-life balance.
c. Lingkungan Sosial - Anak. Jumlah anak dan tanggung jawab terhadap pengasuhan anak
berhubungan dengan work-life balance. Jumlah anak yang lebih
banyak memicu timbulnya stres dan terjadinya konflik antara
kehidupan rumah tangga dan karir. - Dukungan Keluarga. Dukungan keluarga berhubungan dengan
work-life balance. Dukungan emosional dan instrumental yang
diterima seseorang dari keluarga dapat membantu tercapainya
work-life balance. Pekerjaan pasangan, pertengkaran dalam rumah
tangga, serta ekspektasi akan perhatian dan penerimaan juga
berhubungan dengan work-life balance.
d. Lainnya. Faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status
perkawinan, status parental, pengalaman, employee level, tipe
pekerjaan, pendapatan, serta tipe keluarga juga mempengaruhi work-
life balance.
Selain beberapa faktor yang telah dikemukakan di atas, work-life
balance juga dipengaruhi oleh burnout. Hal ini merujuk kepada hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh Darmawan, dkk (2015) tentang hubungan
burnout dengan work-life balance pada dosen wanita. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa burnout memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
work-life balance. Semakin tinggi burnout maka work-life balance akan
semakin rendah dan begitu juga sebaliknya, semakin rendah burnout maka
work-life balance akan semakin tinggi.
