Teori Jalur-Tujuan (Path-Goal) adalah teori kepempimpinan yang dikembangkan
oleh Robert House. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana peimpina memotivasi
bawhaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Teori ini adlaah pendekatan
situasional untuk kepemimpinan karena keefektifan tergantung pada kesesuaian antara
perilaku pemimpin dan karakterisitik bawahan serta tugas. Prinsip dasar dari teori
jalur-tujuan berasal dari teori pengarapan, yang menyatakan bahwa karyawan kana
termotivasi bila mereka merasa cakap, upaya mereka dihargai, dan menemukan
imbalan kerja mereka bernilai (Purnama,2016)
Menurut Fiedler dalam Siagian (2003) mendefinisikan atas dasar tiga orientasi
yaitu:
- Position Power (kekuasaan posisi) yaitu kemampuan untuk emncapai
produktivitas yang tinggi melalui kerja sama. - Task Structure (struktur tugas) yaitu suatu gaya yang mengutamakan adanya
kehendak atau keinginan unutk senantiasa menyelesaikan tugas atau
pekerjaan. - Leader Member Realtions (hubungan pemimpin dengan bawahan) yaitu sutu
gaya yang menunjukan sebuah perhatian yang mengutamakan hubungan
dengan faktor manusia.
Dalam buku Arifin Tahir Perilaku Organisasi, Teori kepemimpinan dapat
dibedakan menjadi empat teori yaitu sebagai berikut :
a. Teori Sifat
Studi awal tentang kepemimpinan di lakukan pada tahun 1940an-1950an,
memusatkan perhatia pada sifat dari pemimpin, para peneliti mencoba
menemukan karakteristik-karakterisitik individual yang membedakan
pemimpin yang berhasil dan pemimin yang gagal. Ralp Stogdil
mengidentifikasikan enam klasifikasi dari sistem kepemimpinan, yaitu
karakterisitik fisik, latar belakang sosial, intelagensia, kepribadian,
karakteristik hubungan tugas, dan karakteristik sosial.
b. Teori Perilaku
Ketidak puasan dengan pendekatan teori sifat dengan kepemimpinan
mendorong ilmuan perilaku untuk memusatkan perhatiannya pada perilaku
pemimpin tentang apa yang diperbuat dan bagaimana ia melakukannya. Dasar
dari pendekatan gaya kepemimpinan diyakini bahwa pemimpin yang efektif
menggunakan gaya (style) tertentu mengarahkan individu atau kelompok
untuk mencapai tujuan tertentu. Berbeda dengan teori sifat, pendekatan
perilaku dipusatkan pada efektivitas pemimpin, bukan pada penampilan dari
pemimpin tersebut. Teori perilaku menekankan pada dua gaya kepemimpinan
yaitu gaya kepemimpinan berorientasi tugas (task orientation) dan orientasi
pada karyawan ( employ orientation). Orientasi tugas adalah perilaku
pimpinan yang menekankan bahwa tugas-tugas dilaksanakan dengna baik
dengan cara mengarahkan dan mengendalikan secara ketat bawahannya.
Orientasi karyawan adalah perilaku pimpinan yang menekankan pada
memberikan motivasi keapda bawahnnya dalam melaksanakan tugasnya
dengan melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan tugasnya, dan mengembangkan hubungan yang bersahabat
saling percaya, mempercaya dan saling menghormati diantara anggota
kelompok.
c. Teori Situasional
selama akhir tahun 1969an, keterbatasan dari pendekatan perilaku, maka
mereka kemudian mengembangkan suatu pendektan baru tentang perilaku
yang memusatkan pada teori situasional yang lebih komplek. Apa yang telah
dilakukan oleh peneliti teori sifat dan perilaku telah meletakkan fondasi yang
penting untk mempelajari kepempinan dalam organisasi karena hasil dari dua
pendekatan tersebut secara kuat menyarankan bahwa cara efektif memipin
adalah tergantung pada situasi, salah satu tugas manajer yang penting adalah
mendiagnose dan menilai faktor yang mempengaruhi efektivitas
kepemimpinanya. Mendiagnose meliputi mengidentifikasi dan memahami
faktor yang terpengaruh. Situasi yang perlu di diagnose oleh pemimpin
meliputi empat bidang, karakteristik manajerial, karakteristik bawahan,
struktur kelompok dan sifat tugas, dan faktor-faktor organisasi.
d. Teori Keatribusian. Menurut model ini, bahwa pemimpin pada dasarnya adalah
pengolah informasi. Dengan demikian pemimpin akan mencari berbagai
informasi tentang mengapa sesuaut itu terjadi, dan mencoba mencari
penyebabnya yang akan dipergunakan sebagi pedoman perilaku pemimpin
