Istilah konstruksi realitas mulai terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L.
Berger dan Thomas Luckmann melalui bukunya The Social Construction of
Reality: A Treatise in The Sociological of Knowledge, yang kemudian diterbitkan
ke dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Tafsir Sosial atas Kenyataan:
Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (1990). Dalam buku tersebut
digambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu
secara intens menciptakan suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama
secara subyektif. (Sobur, 2002: 91)
Realitas sosisal yang dimaksud terdiri dari bagian dasar yaitu, realitas
objektif, realitas simbolik, dan realitas subjektif.
- Realitas Objektif
Realitas Objektif adalah gejala-gejala sosial yang terdapat dalam
kehidupan sehari-hari dan sering dihadapi individu sebagai fakta. - Realitas Subjektif
Realitas subjektif adalah realitas yang terbentuk pada diri khalayak
yang berasal dari realitas objektif dan realitas simbolik. - Realitas Simbolik
Realitas simbolik adalah bentuk-bentuk simbolik dari realitas
objektif, yang biasanya diketahui oleh khalayak dalam bentuk karya seni,
fiksi, serta isi media. (Bungin, 2011)
Media dapat mendefinisikan nilai dan perilaku yang sesuai dengan nilai
kelompok dan perilaku atau nilai apa yang dipandang menyimpang. Perbuatan,
sikap, atau nilai yang menyimpang tersebut bukanlah sesuatu yang alamiah
(nature), yang terjadi dengan sendirinya, dan diterima begitu saja. Semua nilai
dan pandangan tersebut bukan sesuatu yang terbentuk begitu saja, melainkan
dikonstruksi. Lewat konstruksi tersebut, media secara aktif mendefinisikan
peristiwa dan realitas sehingga membentuk kenyataan apa yang layak, apa yang
baik, apa yang sesuai, dan apa yang dipandang menyimpang.
