“
Framing secara sederhana adalah membingkai suatu peristiwa. Framing
adalah pendekatan pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara
pandang yang digunakan oleh wartawan suatu media ketika menyeleksi isu atau
menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta
apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan atau dihilangkan, dan hendak
dibawa kemana berita tersebut. Konkritnya, framing adalah sebuah strategi
bagaimana realitas dibentuk sedemikian rupa untuk ditampilkan pada khalayak
pembaca. (Eriyanto, 2002: 165)
Entman (dalam Eriyanto, 2002: 221) melihat framingsebagai proses
seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu
lebih menonjol dan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan
mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. Dalam konsepsi
Entman, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan,
evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka
berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.
Sedangkan Gamson (dalam Eriyanto, 2002: 260) memahami framing
sebagai seperangkat gagasan atau ide sentral ketika seseorang atau media
memahami dan memaknai suatu isu. Gagasan dan ide ini membentuk
carapandang yang kemudian terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan
konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana.
Kemudian Zhongdang Pan dan Kosicki (dalam Eriyanto, 2002: 293)
melihat framing sebagai cara untuk mengetahui bagaimana suatu media
mengemas berita dan mengkonstruksi realitas melalui pemakaian strategis kata,
kalimat, lead, hubungan antar kalimat, foto, grafik, dan perangkat lain untuk
membantu dirinya mengungkapkan pemaknaan mereka sehingga dapat dipahami
oleh pembaca.
Meskipun berbeda dalam penekanan dan pengertian, ada titik singgung
utama dari definisi framing tersebut. Framing adalah pendekatan untuk melihat
bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan
dan konstruksi realitas itu, hasil akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari
realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah dikenal. Akibatnya, khalayak lebih
mudah mengingat aspek-aspek tertentu yang disajikan secara menonjol oleh
media. Aspek-aspek yang tidak disajikan secara menonjol, bahkan tidak
diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak diperhatikan oleh khalayak.
Framing adalah sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media. Penyajian
tersebut dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek
tertentu, dan membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas/peristiwa. Di
sini media menyeleksi, menghubungkan, dan menonjolkan peristiwa sehingga
makna dari peristiwa lebih mudah menyentuh dan diingat oleh
khalayak.(Eriyanto, 2002: 79
