Gaya Kepemimpinan


Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Menurut
Sutrisno (2009 : 221) gaya kepemimpinan pada dasarnya dapat dilihat dari
bermacam-macam sudut pandang. Thoha (1995 : 49-61) mendefinisikan gaya
kepemimpinan sebagai norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat
orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
William J. Reddin mengidentifikasikan gaya-gaya kepemimpinan yang
berhubungan langsung dengan efektivitas. Selain efektivitas Reddin juga melihat
gaya kepemimpinan itu selalu dipulangkan pada dua hal mendasar yakni
hubungannya pemimpin dengan tugas dan hubungan kerja. Sehingga dengan
demikian model yang dibangun reddin adalah gaya kepemimpinan yang cocok
dan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya. Reddin dalam Thoha
(1995 : 56) menyimpulkan bahwa ada gaya yang efektif dan yang tidak efektif.
Menurut Likert dalam Thoha (1995:310) bahwa pemimpin itu dapat
berhasil jika bergaya participative management. Gaya ini menetapkan bahwa
keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan, dan mendasarkan
pada komunikasi. Selain itu semua pihak dalam organisasi bawahan maupun
pemimpin menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung
(supportive relationship). Likert menerapkan empat sistem kepemimpinan dalam
manajemen sebagai berikut:

  1. Pemimpin bergaya sebagai exploitive authoritative Pemimpin dalam
    hal ini sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada
    bawahannya. Suka mengekploitasi bawahan, dan bersikap
    paternalistik.
  2. Pemimpin dinamakan Otokratis yang baik hati (benevolent
    authoritative) Pemimpin atau manajer-manajer yang termasuk dalam
    sistem ini mempunyai kepercayaan yang berselubung, percaya pada
    bawahan, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah dan ketakutan
    berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke
    atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan
    memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan.
  3. Gaya kepemimpinan lebih dikenal dengan sebutan manajer
    konsultatif Pemimpin dalam hal ini mempunyai sedikit kepercayaan
    pada bawahan biasanya dalam hal kalau ia membutuhkan informasi,
    ide atau pendapat bawahan, dan masih menginginkan melakukan
    pengendalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya. Pemimpin
    bergaya ini mau melakukan motivasi dengan penghargaan dan
    hukuman yang kebetulan, dan juga berkehendak melakukan
    partisipasi.
  4. Pemimpin yang bergaya kelompok partisipatif (partifipative group)
    Dalam hal ini pemimpin mempunyai kepercayaan yang sempurna
    terhadap bawahannya. Dalam setiap persoalan, selalu mengandalkan
    untuk mendapatkan ide-ide dan pendapat-pendapat lainnya dari
    bawahan secara konstruktif.
    (Danim, 2004:55) mengklasifikasikan gaya kepemimpinan sebagai
    berikut:
  5. Kharismatik/non-Kharismatik
    Para pemimpin kharismatik bergantung pada kepribadian, kualitas
    pemberi semangat serta “aurat” nya. Mereka adalah pemimpin yang
    visioner, memiliki orientasi prestasi pengambil resiko yang penuh
    perhitungan, dan juga merupakan komunikator yang baik. Adapun
    para pemimpin non-kharismatik sangat bergantung pada pengetahuan
    mereka, kepercayaan diri dan ketenangan diri, serta pendekatan
    analitis dalam menangani permasalahan.
  6. Otokratis/demokratis
    Para pemimpin otokratis cenderung membuat keputusan sendiri,
    menggunakan posisinya untuk memaksa karyawan agar
    melaksanakan perintahnya. Adapun para pemimpin demokratis
    mendorong pegawai untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan.
  7. Pendorong/pengawas
    Pemimpin yang memiliki sifat mendorong, memberi semangat kepada
    pegawai menggunakan visinya dan memberdayakannya untuk
    mencapai tujuan kelompok. Adapun pemimpin bergaya pengawas
    memanipulasi pegawai agar patuh.
  8. Transaksional/transformasional
    Pemimpin transaksional memanfaatkan uang, pekerjaan dan
    keamanan pekerjaan untuk memperoleh kepatuhan dari pegawainya.
    Para pemimpin transformasional memberikan motivasi kepada
    pegawai untuk bekerja keras mencapai tujuan-tujuan yang lebih
    tinggi.