Penilaian Kinerja Karyawan

Penilaian kinerja atau performance appraisal adalah proses dengan mana
kinerja individual diukur dan dievaluasi (Bacal dalam Wibowo, 2017: 187).
Penilaian kinerja menjawab pertanyaan, seberapa baik pekerja berkinerja selama
periode waktu tertentu. Berdasarkan pandangan tersebut tampak bahwa
performance apprasial atau penilaian kinerja lebih diarahkan pada penilaian
individual pekerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penilaian
kinerja adalah suatu proses penilaian tentang seberapa baik pekerja telah
melaksanakan tugasnya selama periode waktu tertentu (Wibowo 2017: 188).

  1. Proses Penilaian Kinerja
    Proses penilaian kinerja yang berhasil terletak pada beberapa dasar
    utama (Allen dalam Wibowo, 2017: 192), yaitu:
    a. Timing. Penilaian kinerja harus diatur oleh kalender, bukan jam. Manajer
    harus melakukan paling tidak dua kali pertemuan formal dengan pekerja
    setiap tahun. Sekali di awal pada waktu melakukan perencanan dan di
    akhir pekerjaan sekali lagi untuk hasil. Di antara kedua periode tersebut,
    manajer harus meng-coach pekerjanya setiap hari.
    b. Clarity. Kita tidak dapat menilai seberapa baik pekerja melakukan
    pekerjaan sampai jelas tentang apa sebenarnya pekerjaan itu. Setiap
    pekerjaan mempunyai lima sampai enam tanggungjawab kunci. Apabila
    belum jelas di awal tahun, maka perlu duduk bersama untuk merumuskan
    sebelum memulai seberapa baik pekerja menjalankan tugasnya.
    c. Consistency. Proses penilaian yang efektif mengikat langsung dengan
    mission statement dan nilai-nilai organisasi. Apa yang tercantum dalam
    penilaian kinerja harus sama dengan apa yang terdapat dalam mission
    statement.
  2. Manfaat Penilaian Kinerja
    Harvard dalam Wibowo (2017: 192) mengingatkan bahwa orang sering
    lupa untuk membicarakan untuk apa sebenarnya performance appraisal.
    Menurut Harvard penilaian kinerja dapat dipergunakan untuk: (1)
    Memperkenalkan perubahan, termasuk perubahan dalam organisasi, (2)
    Mendefinisikan tujuan, target dan sasaran untuk periode yang akan datang,
    (3) Memberikan orang target yang tidak mungkin dapat dicapai, sebagai alat
    untuk memecat dikemudian hari, (4) Memberikan gambaran bahwa
    organisasi dalam menantang pekerja untuk memberikan kinerja tinggi, (5)
    Meninjau kembali kinerja yang lalu dengan maksud untuk mengevaluasi dan
    mengaitkan dengan perubahan, (6) Melobi penilai untuk kepentingan politis,
    dan bahkan akhir yang meragukan, (7) Mendapatkan kesenangan khusus, (8)
    Menyapakati tujuan pembelajaran, (9) Mengidentifikasi dan merencanakan
    membangun kekuatan, (10) Mengidentifikasi dan merencanakan
    menghilangkan kelemahan, (11) Membangun dialog konstruktif tentang
    kinerja yang dapat dilanjutkan setelah diskusi penilaian, (12) Membangun
    dialog yang sudah ada antara manajer dengan anak buahnya, (13) Menjaga
    perusahaan atau pemegang saham utama senang tetapi tanpa maksud
    menggunakan penilaian menjalankan perusahaan. Dari pada yang
    diungkapkan Harvard di atas tampak jelas bahwa penilaian kinerja bukan
    hanya untuk tujuan menilai sumber daya manusia saja, tetapi dapat
    dipergunakan untuk kepentingan organisasi yang lebih luas.
    Sedangkan Allen dalam Wibowo (2017: 193) menunjukkan manfaat
    penilaian kinerja antara lain adalah: (1) Penilaian kinerja yang dilakukan
    dengan berhati-hati dapat membantu memperbaiki kinerja pekerja sepanjang
    tahun, (2) Proses penilaian kinerja yang efekif merupakan bagian dari
    manajemen sumber daya manusia yang dapat membantu organisai berhasil,
    dan (3) Merupakan komponen kunci dari strategi kompetitif.