Neraca keuangan perusahaan terdiri atas dua sisi, yaitu sisi aktiva dan
sisi pasiva. Sisi aktiva merupakan bagian yang menggambarkan struktur
kekayaan yang dimiliki perusahaan, sedangkan sisi pasiva merupakan bagian
dari struktur keuangan. Struktur modal termasuk ke dalam sisi bagian struktur
keuangan, yang merupakan pembelanjaan permanen yang menggambarkan
keseimbangan dari hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Nasution,
2020). Menurut Komarudin & Tabroni (2019), umumnya struktur modal
perusahaan merupakan gabungan dari ekuitas dengan pembiayaan utang, dan
sangat penting untuk menilai bisnis. Struktur modal dapat digunakan oleh
perusahaan untuk pembayaran perusahaan dalam jangka panjang.
Struktur modal memiliki keterkaitan dengan pembelanjaan perusahaan
dalam jangka waktu yang lama, tujuannya adalah untuk memberikan dana
investasi kepada perusahaan dan dana tersebut dapat dihitung dari jumlah
sumber pendanaan (Nurkhasanah & Ichsanuddin Nur, 2022). Struktur modal
digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi kewajiban perusahaan dengan
memanfaatkan modal yang dimiliki. Terdapat beberapa teori mengenai struktur
modal:
- Teori Tradisional
Teori ini dikembangkan oleh David Durand pada tahun 1952 dengan
mengacu pada tiga pendekatan, yaitu pendekatan laba bersih,
pendekatan laba operasi bersih dan pendekatan tradisional. Teori
pendekatan laba bersih menjelaskan bahwa apabila perusahaan semakin
banyak menggunakan utang, maka semakin kecil biaya modal rata-rata
tertimbang, sehingga semakin meningkatnya penggunaan utang
mengakibatkan nilai perusahaan juga meningkat. Teori pendekatan laba
operasi bersih menjelaskan bahwa tingkat utang perusahaan tidak akan
mempengaruhi biaya modal rata-rata tertimbang. Pendekatan
tradisional menjelaskan bahwa biaya utang dan biaya modal sendiri
akan meningkat pada titik tertentu, sehingga biaya modal sendiri akan
terus bertambah dan menyebabkan biaya modal rata-rata tertimbang
meningkat pada rasio utang tertentu (Arum et al., 2022). - Teori Modigliani-Miller
Teori Modigliani-Miller (MM) yang pertama adalah MM tanpa pajak.
MM tanpa pajak mengatakan bahwa pasar yang ada pada dunia
merupakan pasar yang sempurna karena biaya transaksi dan
kebangkrutan bernilai nol. Modigliani-Miller mengembangkan teori
dengan adanya pajak pada tahun 1963, di mana pajak mulai diterapkan
pada penghasilan perusahaan. Akibatnya, perusahaan akan memiliki
15
nilai yang lebih tinggi apabila mempunyai utang. Pembayaran bunga
dari adanya utang akan menurunkan pajak yang harus dibayar, sehingga
nilai perusahaan dan profit perusahaan meningkat (Arum et al., 2022). - Teori Trade-off
Teori yang dikembangkan oleh Myers ini menjelaskan bahwa meskipun
dengan adanya utang akan meningkatkan nilai perusahaan namun
dengan adanya pertukaran (trade off), hal tersebut hanya akan terjadi
pada kondisi tertentu (Arum et al., 2022). - Signalling Theory
Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Spence pada tahun 1973.
Menurut Sudarno et al. (2022), sinyal digunakan oleh manajemen
perusahaan untuk memberi tahu para investor tentang kondisi prospek
perusahaan. Perusahaan yang memiliki prospek bagus lebih memilih
untuk tidak menjual saham yang dimiliki serta menggunakan berbagai
cara untuk mendapatkan modal baru, seperti penggunaan utang yang
telah berlebih hingga mencapai target struktur modal yang normal.
Perusahaan lebih memilih menjual saham yang dimiliki apabila prospek
perusahaan sedang dalam kondisi yang kurang bagus. Sinyal yang
diberikan oleh perusahaan dapat berbentuk sinyal positif maupun sinyal
yang bersifat negatif. Teori sinyal merupakan teori yang digunakan oleh
perusahaan untuk memberikan sebuah informasi tentang kondisi
keuangan perusahaan di masa yang akan datang kepada para investor,
di mana informasi tersebut dapat berupa infomasi yang baik, yaitu
16
kenaikan nilai saham perusahaan, maupun informasi yang buruk,
seperti penurunan nilai saham perusahaan. Investor menggunakan
informasi sinyal tersebut sebagai keputusan untuk menanamkan atau
tidak menanamkan saham pada suatu perusahaan. Menurut pendapat
Modigliani Miller, apabila dividen mengalami kenaikan, maka hal
tersebut merupakan sinyal bagi para investor tentang kondisi
perusahaan yang akan memberikan hasil baik di masa depan. Nilai
perusahaan akan meningkat apabila semakin banyak investor yang
berinvestasi pada perusahaan tersebut, sehingga banyak perusahaan
yang menggunakan teori sinyal ini sebagai harapan bahwa akan banyak
investor yang melakukan investasi pada perusahaan (Fauziah, 2017). - Teori Keagenan
Teori agensi adalah sebuah teori tentang hubungan antara principal
dengan agent. Principal memiliki hak untuk memberikan perintah serta
bertanggung jawab dalam mengawasi tugas yang dilakukan oleh agent,
sedangkan agent merupakan pihak yang menerima tugas yang
diberikan oleh principal serta bertanggung jawab untuk menjalankan
dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh principal. Teori agensi
diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976. Teori agensi
dapat menyebabkan terjadinya agency cost karena terdapat konflik
antara manajer dengan pemegang saham, di mana konflik tersebut dapat
diminimalisir dengan menerapkan mekanisme pengawasan. Oleh
karena itu, agency cost muncul akibat dari mekanisme tersebut. Agency
17
cost yang digunakan oleh pemegang saham dapat menyebabkan laba
yang dihasilkan mengalami penurunan, sehingga berdampak pada
kinerja perusahaan (Gunawan, 2021).
Struktur modal dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan
rasio debt to equity (DER). DER digunakan dalam penelitian ini karena DER
memiliki keterkaitan hubungan dengan nilai perusahaan. Nilai DER yang tinggi
mengakibatkan rendahnya perusahaan dalam menyediakan dana untuk para
pemegang saham, artinya tingkat penggunaan utang perusahaan akan meningkat
apabila perusahaan menghasilkan nilai DER yang tinggi. Investor akan
menggunakan nilai DER sebagai patokan untuk berinvestasi pada perusahaan,
karena risiko perusahaan yang kecil akan ditunjukkan oleh nilai DER yang
tinggi. DER dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut ini (Yanti, 2022):
π·πππ‘ π‘π πΈππ’ππ‘π¦ π ππ‘ππ = πππ‘ππ π·πππ‘
πππ‘ππ πΈππ’ππ‘π¦
