Etika berasal dari kata Ethos dalam Bahasa Yunani yang
berarti kebiasaan atau karakter. Etika merupakan suatu cabang
ilmu pengetahuan yang membahas tentang baik atau tidak
baiknya suatu perbuatan yang harus dilaksanakan. Terdapat
beberapa etika yang baik yaitu:
1) Kejujuran (Honesty): suatu perbuatan dan perkataan yang
dilakukan dengan benar dan tidak dibuat-buat.
2) Ketetapan (Reliability): selalu berusaha untuk menepati
segala janji dengan tepat, baik tepat menurut ikrar, tempat,
waktu dan syarat.
3) Loyalitas: selalu setia pada janjinya sendiri dan kepada siapa
yang telah dijanjikannya.
4) Disiplin: taat pada seluruh peraturan maupun sistem yang
telah ditetapkan tanpa ada paksaan daripihak manapun
(Anoraga, 2011: 133).
Untuk menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau
buruk ada berbagai standar untuk menilainya yang menurut ajaran
Islam berbeda dengan ukuran-ukuran lain, ada beberapa kriteria
yang harus diperhatikan seperti bagaimana cara melakukan
perbuatan itu. (Suhrawardi, 2009: 39)
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits berikutَ
َّللاه ُ عَلَيْه ِ وَسَلهم ُ َّللاه ِ صَلهى عَن ْ أَبِي هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُىل
أَكْمَل ُ الْمُؤْمِنِين َ إِيمَانًا أَحْسَنُهُم ْ خُلُقًا
“Orang mu’min yang paling sempurna akhlaknya, ialah mereka
yang terbaik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih
oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284)
Dari hadis diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur
perbuatan tersebut baik atau buruk dapat dilihat dari:
1) Niat, sesuatu yang merupakan kehendak atau yang
mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tersebut.
2) Dalam merealisasikan hal tersebut harus terdapat kehendak
yang baik dalam melaksanakannya.
Dalam etika bisnis mengandung nilai baik, buruk, benar
maupun salah dalam dunia perbisnisan yang berasaskan pada
aturan-aturan dan prinsip-prinsip moralitas yang telah ditetapkan.
Dalam pengertian lain etika bisnis biasa dipahami sebagai
perbuatan yang harus dilakukan secara komit oleh para pelakunya
dalam bertransaksi, bersikap dan saat berelasi guna mencapai
tujuan bisnisnya dengan cara yang benar. Etika bisnis juga
memberikan kebebasan pada para pelakunya dalam bertindak dan
bertanggung jawab karena percaya pada Kemahakuasaan
Tuhannya. Namun kebebasan tersebut adalah kebebasan yang
berbatas agar nantinya dalam bertindak dan melakukan sesuatu
manusia dapat menentukan pilihannya antara baik dan buruk,
benar dan salah maupun halal dan haram (Badroen, 2006: 70).
Dalam dunia bisnis harus ada keterbukaan bukan hanya
antara pengusaha dan pengusaha namun juga harus ada
pembicaraan secara transparan antara semua pihak baik
pengusaha, pemerintah, masyarakat bahkan negara lain juga harus
mengetahui agar tidak hanya negara sendiri yang menjalankan
etika tetapi negara lain juga ikut menjalankan. Jadi jika ada satu
pihak yang tidak mengetahui kesepakatan tersebut maka tidak
akan berjalan dengan baik. Artinya dibutuhkan pembicaraan
secara global agar kesepakan tersebut dapat berjalan sesuai
dengan yang telah disepakati dan tidak ada pihak yang dirugikan
dalam perekonomian
