Dimensi Modal Sosial


Mereka yang berkepentingan dengan modal sosial akan
memperhatikan (a) kepadatan jaringan sosial yang di dalamnya
orang-orang berpartisipasi; (b) sejauh mana mereka terlibat dengan
lainnya dalam kegiatan informal dan kegiatan sosial; (c)
keanggotaan kelompok dan asosiasinya (lihat la via associative).
Kekhawatiran besar mereka adalah bahwa di Amerika Serikat,
misalnya, terjadi kemerosotan jumlah keanggotaan aktif dalam
asosiasi atau perkumpulan (seperti PTAs, tim sepak bola dan
kelompok kemasyarakatan) dan pada saat yang sama terjadi
kenaikan kegiatan pengisian waktu luang (sebagian besar waktu
luang mereka untuk menonton televisi). Misalnya, terjadi penurunan
jumlah orang yang terlibat atau berpartisipasi dalam liga (tim)
bowling dan terjadi kenaikan bowling perorangan atau main bowling
sendirian (dari sinilah Putnam (2000) memberi judul bukunya
(Bowling Alone). Hasilnya, modal sosial melemah.
Mereka juga memperhatikan dimensi tambahan dari modal
sosial apakah dimensi itu berupa pengikatan (atau eksklusif)
dan/atau penjembatanan (atau inklusif). Pengikatan atau bonding
berarti lebih melihat ke dalam (inward looking) dan punya
18
kecenderungan untuk memperkuat identitas eksklusif dan
memperkuat kelompok-kelompok homogen. Penjembatanan atau
bridging berarti lebih melihat keluar (outward looking) dan
mencakup orang-orang lintas sekat-sekat sosial yang berlainan
(Putnam, 2000). Modal pengikatan atau pertalian (bonding capital)
adalah penting untuk membangun resiprositas khusus dan
memobilisasi solidaritas. Jaringan penghubung (bridging network)
adalah lebih baik untuk hubungan dengan aset eksternal dan untuk
penyebaran informasi. Selain itu, modal sosial penjembatanan dapat
membangkitkan identitas dan resiprositas yang lebih luas, sedang
modal sosial pengikatan menumbuhkan diri yang lebih sempit
(eksklusif). Modal sosial pengikatan merupakan jenis perekat
sosiologis yang luar biasa, sedang modal sosial penjembatanan
menyediakan penghubung sosiologis.
Ini bukanlah kategori yang padanya jaringan sosial dapat
disusun dengan rapi tetapi merupakan dimensi “lebih-atau-kurang”
yang bersamanya kita dapat membandingkan bentuk-bentuk modal
sosial yang berlainan.
Robert D. Putnam: Mengapa modal sosial itu penting.
Pertama, modal sosial memungkinkan warga negara untuk
menyelesaikan masalah-masalah kolektif secara lebih mudah.
Orang-orang sering kali berkinerja lebih baik jika mereka saling
bekerja sama satu sama lainnya. Tetapi setiap individu ingin
memperoleh manfaat lebih dengan melalaikan tanggung jawab,
berharap orang lain bekerja untuk dirinya. Penyelesaian dilema
ini paling baik dilakukan melalui mekanisme kelembagaan yang
punya kekuasaan untuk menjamin kepatuhan terhadap perilaku
yang dikehendaki bersama. Norma-norma sosial dan jaringanjaringan yang memperkuatnya menyediakan mekanisme tadi.
Kedua, modal sosial melumasi roda-roda yang memungkinkan masyarakat untuk maju secara mulus. Bila orang-orang percaya
dan saling mempercayai dan jika mereka melakukan interaksi
berulang-ulang dengan sesama warga negaranya, maka urusan
setiap hari dan transaksi sosial akan lebih murah…..alias berjalan
dengan lancar.
Cara ketiga untuk memperbaiki modal sosial adalah
dengan cara memperluas kesadaran kita perihal bagaimana dalam
banyak hal nasib kita saling berhubungan. Orang-orang yang punya
hubungan aktif dan hubungan kepercayaan dengan orang lainnya
apakah anggota keluarga, teman, atau teman bermain bowling akan
mengembangkan atau memelihara sifat-sifat karakter yang baik
untuk anggota masyarakat lainnya. Orang-orang yang suka
bergabung atau terlibat dengan orang lain (disebut joiner) menjadi
lebih toleran, sikap sinisnya berkurang, dan lebih empati dengan
nasib buruk orang lain. Bila seseorang kurang punya hubungan
dengan orang lainnya, mereka tidak akan mampu menguji
sifat/keadaan diri yang sesungguhnya, apakah dalam percakapan
biasa atau dalam musyawarah yang lebih formal. Tanpa
kesempatan ini, orang-orang menjadi lebih mungkin untuk
diombang-ambingkan oleh impuls-impuls buruknya.
Jaringan-jaringan yang merupakan modal sosial juga
bertindak sebagai saluran untuk mengalirnya informasi berguna yang
memfasilitasi pencapaian tujuan kita. Modal sosial juga beroperasi
melalui proses psikologis dan biologis untuk memperbaiki kehidupan
individu. Bukti menunjukkan bahwa orang-orang yang
kehidupannya penuh dengan modal sosial akan mampu mengatasi
trauma secara lebih baik dan menyembuhkan penyakitnya secara
lebih efektif. Hubungan masyarakat bukan semata berupa ceritacerita yang tak jelas tentang kemenangan warga. Dalam banyak hal
yang terukur dan terdokumentasikan dengan baik, modal sosial
membuat banyak perbedaan pada kehidupan kita.Robert Putnam
(2000) Bowling Alone: The Colapse and Revival of American
Community, New York: Simon and Schuster.