Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self-Efficacy


Menurut Bandura, (1989 dalam O’Sullivan, 2011) menjelaskan bahwa
efikasi diri mengacu pada keyakinan akan kemampuan individu untuk
menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif, dan tindakan yang diperlukan
untuk memenuhi tuntutan situasi. Menurut Bandura, (1994 dalam O’Sullivan,
2011) Faktor-faktor yang mempengaruhi Self-Efficacy dapat dipeoleh dari
lima prinsip sumber informasi, yaitu:
1) Pencapaian kinerja (performance attaiment)
Performance attainment merupakan sumber pengharapan yang utama
karna didasarkan pada pengalaman individu ketika berhasil mengerjakan
sesuatu hal dengan baik. Keberhasilan yang diperoleh akan membawa
seseorang pada tingkat Self-Efficacy yang lebih tinggi, sedang kegagalan akan
merendahkan Self-Efficacy. Pengalaman sukses yang didapatkan seseorang
akan menghasilkan peningkatan Self-Efficacy dan minat pada tugas.
Sebaliknya, kegagalan tugas akan menghasilkan penurunan Self-Efficacy dan
minat pada tugas.
2) Pengalaman orang lain (vicarious experience)
Vicarious experience adalah pengalaman yang didapat ketika indivudu
melihat keberhasilan orang lain dalam mengerjakan tugas dengan baik.
Individu yang melihat atau mengamati orang lain yang mencapai keberhasilan
dapat menimbulkan persepsi Self-Efficacy-nya. Dengan melihat keberhasilan
orang lain, individu dapat menyakinkan dirinya bahwa ia juga bisa untuk
mencapai hal yang sama dengan orang yang dia amati. Ia juga meyakinkan
dirinya bahwa jika orang lain bisa melakukannya, ia harus dapat
melakukannya. Namun, jika seseorang melihat bahwa orang lain yang
memiliki kemampuan yang sama ternyata gagal meskipun ia telah berusaha
dengan keras, dapat menurunkan penilainya terhadap kemampuan dia sendiri
dan juga akan mengurangi usaha yang akan dilakukan Bandura, (1986 dalam
Thavaraj et al., 2015).
3) Persuasi verbal (verbal persuasion)
Persuasi verbal digunakan untuk memberi keyakinan kepada seseorang
bahwa ia memiliki suatu kemampuan yang memadai untuk mencapai apa yang
ia inginkan. Menurut Bandura, (1986 dalam Thavaraj et al., 2015) individu
yang diarahkan dengan saran, nasihat dan bimbingan dapat meningkatkan
kapasitasnya tentang kemampuan-kemampuan yang dimilikinya sehingga
individu tersebut mencapai tujuan yang diinginkan. Seseorang yang berhasil
diyakinkan secara verbal akan menunjukan usaha yang lebih keras jika
dibandingkan dengan individu yang memiliki keraguan dan hanya memikirkan
kekurangan diri ketika menghadapi kesulitan.
4) Dorongan emosional (emotional arousal)
Emotional arousal adalah muncul dan naiknya emosi seseorang ketika
individu berada dalam situasi yang tertekan. Saat berada dalam situasi
tertekan, kondisi emosional dapat mempengaruhi pengharapan individu. Rasa
takut dan cemas akan mengalami kegagalan membuat individu menjadi tidak
yakin dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya Bandura, (1986 dalam
Thavaraj et al., 2015).
5) Keadaan dan reaksi fisiologis (physical or affective status)
Seseorang menjadikan keadaan fisiologisnya sebagai sumber informasi
untuk memberikan sumber penilaian terhadap kemampuan dirinya sehingga
berguna dalam melihat apakah tujuan yang akan dicapai sulit, sedang atau
mudah. Individu merasa gejala-gejala somatic atau tegangan yang timbul
dalam situasi yang menekan sebagai pertanda bahwa ia tidak dapat untuk
menguasai keadaan. Jika individu tidak sedang mengalami gejolak perasaan
maka dirinya cenderung akan mampu berpikir relative tenang, jernih dan
terarah.