Gaya Kepemimpinan


Menurut Wijana dan Supardo (2006) dalam Lestiyowati (2018) gaya
kepemimpinan adalah suatu cara dan proses kompleks dimana seseorang
mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas atau suatu
sasaran dan mengarahkan organisasi dengan cara yang lebih masuk akal.
Pemimpin memiliki karakteristik dan upaya untuk menciptakan hal yang
baru (selalu berinovasi). Gagasan-gagasan yang dimiliki pemimpin
merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun menjiplak. Pemimpin
selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang dilakukan. Pemimpin
percaya pada bawahan, dan selalu menyalakan api kepercayaan pada
anggota organisasi (Salam, 2017).
Kepemimpinan juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwaperistiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk
mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok,
perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok atau
organisasi (Rivai, 2004 dalam Asary, 2016). Demikian halnya Locander et
al (2002) dalam Asary (2016) menjelaskan kepemimpinan mengandung
makna pemimpin mempengarui yang dipimpin tapi hubungan antara
pemimpin dengan yang dipimpin bersifat saling menguntungkan kedua
belah pihak.
Terdapat enam gaya kepemimpinan yang dikutip oleh Goleman
(2009) dalam Rusmana (2017) adalah sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan Koersif (Coersive Style)
    Yaitu pemimpin yang menuntut perintahnya dipenuhi tanpa adanya
    fleksibilitas kepada bawahan. Gaya kepemimpinan kohesif akan
    mendatangkan hasil yang maksimal ketika organisasi dalam situasi
    kritis dan menuntut perbaikan secepatnya. Adapun ciri-ciri gaya
    kepemimpinan koersif yaitu :
    a. Kebijakan selalu ditentukan oleh pemimpin.
    b. Tidak ada inisiatif atau ide-ide kreatif dari bawahan.
    c. Pemimpin menetapkan kontrol yang ketat dan standar yang tinggi.
  2. Kepemimpinan Otoritatif (Authoritative Style)
    Yaitu pemimpin yang menggerakkan orang menuju satu visi, pemimpin
    yang menggunakan gaya otoritatif akan memberikan motivasi kepada
    bawahannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gaya
    kepemimpinan otoritatif akan mendatangkan hasil yang maksimal
    ketika sebuah organisasi tidak memiliki tujuan yang jelas atau target
    yang pasti baik untuk jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka
    panjang. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otoritatif yaitu:
    a. Pemimpin hanya memberikan tujuan akhir yang harus dicapai.
    b. Memberikan kebebasan kepada bawahan untuk berinisiatif dan
    memberikan ide-ide baru.
    c. Memiliki visi yang jelas dan keberanian untuk bertindak.
    d. Memiliki kharisma dan percaya diri yang tinggi.
    e. Pandai memberi motivasi kepada bawahan.
  3. Kepemimpinan Afiliatif (Afiliative Style)
    Yaitu kepemimpinan yang menilai individu dan emosi bawahan sebagai
    hal yang lebih penting dari pada tugas dan tujuan. Pemimpin afiliatif
    berusaha menciptakan keharmonisan antara pemimpin dan bawahan
    serta mengukur organisasi dengan membangun ikatan emosional yang
    kuat sehingga mendapatkan kesetiaan yang tinggi dari bawahan. Gaya
    kepemimpinan afiliatif akan mendatangkan hasil yang maksimal pada
    sebuah perusahaan yang baru berdiri dimana pemimpin sedang
    berusaha untuk membangun kerjasama tim. Adapun ciri-ciri gaya
    kepemimpinan afiliatif yaitu:
    a. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.
    b. Fleksibel dan meningkatkan inovasi.
    c. Jarang memberikan arahan kepada bawahan.
    d. Memungkinkan kinerja buruk tidak terkoreksi.
    e. Cenderung memberikan toleransi yang berlebihan.
  4. Kepemimpinan Demokratis (Democratice Leadership)
    Yaitu pemimpin yang membangun rasa hormat dan tanggung jawab
    dengan mendengarkan pendapat orang lain. Pemimpin demokratis
    menetapkan kebijakan melalui konsensus dengan mengikutsertakan
    partisipasi bawahan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis
    yaitu:
    a. Menghargai pendapat bawahan.
    b. Fleksibel dan memberi kebebasan kepada bawahan berinisiatif dan
    memberikan ide baru.
    c. Tujuan yang dicapai realistis dan berdasarkan kesepakatan bersama.
    d. Memungkinkan terjadinya pertemuan-pertemuan secara terusmenerus.
    e. Melakukan pemungutan suara sebagai jalan akhir untuk
    mendapatkan keputusan.
  5. Kepemimpinan Pacesetting (Pacesetting Leadership)
    Yaitu pemimpin ambisius yang menuntut keberhasilan dan
    kesempurnaan dari tugas yang diberikan kepada bawahannya.
    Pemimpin dengan gaya ini memiliki tujuan yang jelas dan memberikan
    arahan yang jelas mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh
    dilakukan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan pacesetting yaitu:
    a. Pemimpin menetapkan standar kinerja yang tinggi.
    b. Memberi contoh dan melakukan perbaikan terus-menerus.
    c. Tegar terhadap bawahan yang memiliki kinerja yang tidak baik.
    d. Memberikan arahan secara terperinci dan tidak fleksibel.
    e. Tidak ada inisiatif dari bawahan.
  6. Kepemimpinan Coaching (Coaching Leadership)
    Yaitu pemimpin yang bertindak sebagai seorang penasihat bagi
    bawahan. Pemimpin coaching membantu para bawahannya untuk
    menemukan kekuatan dan kelemahan bawahan serta membantu
    bawahan untuk membuat konsep dari aspirasi pribadi dan karier
    bawahan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan coaching yaitu:
    a. Pemimpin menghargai gagasan bawahan.
    b. Pemimpin memberikan nasihat kepada bawahan mengenai tugas
    yang harus dilaksanakan.
    c. Bersedia untuk mentolerir kegagalan jangka pendek jika kegagalan
    itu dapat meningkatkan cara kerja bawahan dalam jangka panjang.
    d. Terbuka terhadap aspirasi atau kritik dari bawahan.
    e. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberikan
    pelatihan secara pribadi kepada bawahan.