Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kegagalan Total QualityManagement (TQM)


Menurut Rusmawati, Azizah dan Najiah (2021), jika perusahaan
menerapkan Total Quality Management sama dengan menerapkan inovasi
manajemen yang lain, maka usaha tersebut sudah gagal dari awal. Total Quality
Management yang merupakan pendekatan baru serta menyeluruh yang
memerlukan perubahan secara total atas paradigma dari manajemen tradisional,
komitmen jangka panjang, adanya kesamaan tujuan, dan pelatihan yang diberikan
khusus.
Selain pelaksanaan yang tidak sesuai dan keinginan yang sulit untuk
direalisasikan, ada juga kesalahan yang dilakukan secara umum saat perusahaan
berinisiatif dalam melakukan perbaikan dari kualitas. Beberapa kesalahan yang
sering dibuat antara lain:

  1. Delegasi kepemimpinan yang kurang baik dari manajemen senior
    Kebijakan dalam upaya untuk memperbaiki kualitas secara terusmenerus harusnya dimulai oleh pihak manajemen karena meraka harus
    terlibat langsung dalam menerapkannya. Apabila tanggung jawab
    tersebut dilimpahkan kepada pihak lain (misal kepada pakar yang
    diberi gaji) maka ada peluang yang besar dalam terjadinya kegagalan.
  2. Team Mania
    Perusahaan harus membuat beberapa kelompok yang melibatkan
    seluruh karyawan. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam
    menumbuhkan dan menunjang kerja sama kelompok. Pertama,
    karyawan maupun penyelia harus paham terhadap peran masingmasing. Karyawan penting dalam mempelajari bagaimana cara
    menjadi anggota kelompok yang baik, sedangkan penyelia harus
    mempelajari bagaimana cara menjadi pelatih yang tepat. Kedua,
    perusahaan perlu melakukan perubahan dalam budaya agar kerja sama
    dalam kelompok dapat berjalan dengan baik. Namun, bila kedua hal ini
    tidak dilaksanakan sebelum pembuatan kelompok, maka dapat
    menyebabkan masalah, bukan pemecahan dalam masalah.
  3. Proses penyebarluasan (Deployment)
    Ada perusahaan yang mengoptimalkan inisitif dari kualitas tanpa
    bersamaan dengan pengembangan rencana dalam penyatuan ke seluruh
    perusahaan (misalnya pemasaran, operasi, dan lain-lain). Semestinya
    dalam mengoptimalkan inisiatif harus melibatkan para manajer,
    penyuplai, serikat kerja, dan bidang produksi lainnya. Hal ini
    dikarenakan usaha meliputi pandangan mengenai pengembangan
    dalam kemampuan, struktur, kesadaran, pengahrgaan, dan pendidikan.
  4. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis
    Ada perusahaan yang hanya memakai pendekatan Juran, pendekatan
    Deming, atau pendekatan Crosby dan hanya melakukan prinsip-prinsip
    yang ditentukan saja. Kenyataanya, tidak ada satupun pendekatan yang
    dikemukakan oleh tiga pakar tersebut maupun pakar kualitas lain yang
    merupakan satu pendekatan yang tepat dalam segala kondisi. Bahkan
    para pakar kualitas mendorong perusahaan agar menyesuaikan
    program kualitas dengan apa yang menjadi kebutuhan dari perusahaan.
  5. Harapan yang terlalu berlebihan dan tidak realistis
    Hanya karena mengirim karyawan dalam mengikuti pelatihan dalam
    beberapa hari, bukan berarti dapat langsung membentuk keterampilan
    mereka. Perlu dibutuhkan waktu dalam mengilhami, mendidik, dan
    membuat karyawan sadar pentingnya kualitas. Dibutuhkan waktu yang
    cukup lama dalam melaksanakan perubahan-perubahan proses baru,
    bahkan perubahan tersebut sangat lama dibutuhkan waktu hingga
    pengaruhnya terasa dalam peningkatan dari kualitas serta daya saing
    dari perusahaan.
  6. Empowerment yang bersifat prematur
    Terdapat banyak perusahaan kurang dalam memahami makna dari
    pemberian empowerment kepada karyawan. Mereka mengira apabila
    karyawan yang telah dilatih dan diberi tanggung jawab dalam
    mengambil keputusan maka karyawan dapat menjadi self directed dan
    memberikan hasil yang positif. Kenyataanya dalam praktik, karyawan
    masih belum mengerti apa yang harus dikerjakan setelah suatu
    pekerjaan diselesaikan. Karena itu, karyawan masih membutuhkan
    sasaran dan tujuan yang jelas sehingga mereka tidak salah dalam
    mengerjakan sesuatu.