Risiko dan Ketahanan Operasional

Risiko operasional adalah kemungkinan terjadinya gangguan yang memengaruhi kemampuan organisasi menghasilkan atau menyerahkan produk dan jasa. Risiko dapat berasal dari dalam organisasi maupun dari lingkungan eksternal.

Contoh risiko operasional antara lain:

  • Kerusakan mesin atau sistem teknologi.
  • Kegagalan pemasok.
  • Keterlambatan bahan baku.
  • Kesalahan manusia.
  • Produk cacat.
  • Kecelakaan kerja.
  • Serangan siber.
  • Gangguan listrik atau jaringan.
  • Bencana alam.
  • Pandemi.
  • Perubahan regulasi.
  • Perubahan permintaan secara ekstrem.
  • Konflik tenaga kerja.
  • Gangguan transportasi dan logistik.

Ketahanan operasional atau operational resilience adalah kemampuan organisasi untuk mengantisipasi, menahan, merespons, pulih, dan beradaptasi setelah menghadapi gangguan. Ketahanan tidak berarti organisasi tidak pernah mengalami masalah, melainkan organisasi memiliki kapasitas untuk meminimalkan dampak serta memulihkan operasi secara cepat.

Strategi membangun ketahanan operasional antara lain:

  • Memetakan proses kritis dan titik kegagalan.
  • Menyediakan pemasok alternatif.
  • Mengembangkan rencana kesinambungan bisnis.
  • Menyimpan persediaan pengaman untuk item kritis.
  • Membangun redundansi pada sistem teknologi.
  • Meningkatkan visibilitas rantai pasok.
  • Melakukan simulasi risiko dan skenario gangguan.
  • Memperkuat keamanan siber.
  • Melatih karyawan dalam prosedur darurat.
  • Melakukan evaluasi pascainsiden untuk pembelajaran organisasi.