Keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi operasi karena aktivitas operasional menggunakan energi, bahan baku, air, lahan, transportasi, dan berbagai sumber daya lain yang dapat menimbulkan dampak lingkungan serta sosial. Oleh sebab itu, manajemen operasional perlu mengintegrasikan pertimbangan keberlanjutan ke dalam keputusan desain produk, proses, lokasi, pengadaan, transportasi, pengemasan, dan pengelolaan limbah.
Konsep green operations menekankan upaya mengurangi dampak lingkungan melalui efisiensi energi, penggunaan bahan ramah lingkungan, pengurangan limbah, pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan emisi, dan desain produk yang mendukung daur ulang.
Salah satu pendekatan penting adalah circular economy. Berbeda dengan model linear “ambil–buat–buang”, ekonomi sirkular berupaya mempertahankan nilai produk, komponen, dan material selama mungkin melalui penggunaan kembali, perbaikan, pemanufakturan ulang, daur ulang, dan desain produk yang lebih tahan lama.
Contoh praktik operasi berkelanjutan meliputi:
- Mengurangi kemasan plastik sekali pakai.
- Menggunakan kendaraan distribusi yang lebih hemat energi.
- Mengoptimalkan rute logistik untuk menurunkan emisi.
- Menggunakan bahan baku bersertifikat berkelanjutan.
- Menerapkan penghematan listrik dan air di fasilitas operasi.
- Mengelola limbah produksi secara aman.
- Mendesain produk yang mudah diperbaiki.
- Mengembangkan reverse logistics untuk pengembalian, perbaikan, atau daur ulang produk.
Keberlanjutan juga mencakup aspek sosial. Organisasi perlu memperhatikan keselamatan kerja, kondisi kerja layak, hak pekerja, keberagaman, inklusi, serta praktik pengadaan yang etis. Rantai pasok yang efisien tetapi dibangun melalui eksploitasi tenaga kerja atau perusakan lingkungan tidak dapat dianggap berkelanjutan dalam jangka panjang.
