Pengukuran kinerja diperlukan agar manajemen dapat mengetahui apakah sistem operasi bekerja sesuai sasaran. Indikator kinerja harus relevan dengan strategi organisasi dan tidak hanya berfokus pada satu dimensi, seperti biaya. Organisasi yang hanya mengejar biaya rendah dapat mengorbankan kualitas, keselamatan, kepuasan pelanggan, atau keberlanjutan.
Beberapa indikator kinerja operasional yang umum digunakan adalah:
| Dimensi | Contoh indikator |
|---|
| Dimensi | Contoh indikator |
|---|---|
| Produktivitas | Output per tenaga kerja, output per jam mesin, nilai tambah per karyawan |
| Kualitas | Tingkat cacat, tingkat pengembalian produk, keluhan pelanggan, kesalahan layanan |
| Biaya | Biaya per unit, biaya tenaga kerja, biaya persediaan, biaya kegagalan kualitas |
| Waktu | Lead time, cycle time, waktu tunggu, waktu pengiriman |
| Pengiriman | On-time delivery, tingkat pemenuhan pesanan, tingkat keterlambatan |
| Persediaan | Inventory turnover, stockout rate, tingkat persediaan usang |
| Kapasitas | Utilisasi kapasitas, efisiensi kapasitas, tingkat penggunaan fasilitas |
| Pemeliharaan | Downtime, mean time between failures, biaya pemeliharaan |
| Keselamatan | Frekuensi kecelakaan, hari kerja hilang, kepatuhan terhadap prosedur K3 |
| Keberlanjutan | Intensitas energi, limbah per unit, emisi karbon, tingkat daur ulang |
| Pelanggan | Kepuasan pelanggan, loyalitas, waktu respons keluhan |
Balanced Scorecard dapat digunakan untuk mengintegrasikan indikator keuangan dan nonkeuangan. Dalam perspektif operasional, pengukuran perlu memperhatikan hubungan sebab-akibat. Misalnya, pelatihan karyawan dapat memperbaiki kualitas proses; kualitas proses dapat mengurangi cacat; penurunan cacat dapat memperbaiki ketepatan pengiriman; dan ketepatan pengiriman dapat meningkatkan kepuasan serta loyalitas pelanggan.
