Brand Loyalty


Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Ratnawati (2015:927), loyalitas
merek adalah preferensi konsumen secara konsisten untuk melakukan pembelian
pada merek yang sama pada produk yang spesifik atau kategori pelayanan tertentu.
Brand Loyalty adalah sebuah komitmen yang kuat dalam berlangganan atau
membeli suatu merek secara konsisten di masa yang akan datang.
Menurut Oliver (1999: 34) dalam Putra (2020) brand loyalty merupakan “a
deeply held commitment to rebuy or repatronise a preferred product/service
consistently in the future, thereby causing repetitive same-brand or same brand-set
purchasing, despite situational influences and marketing efforts having the
potential to cause switching behavior”.
“Komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli kembali atau
berlanggangan kembali produk/jasa yang disukai secara konsisten dimasa depan,
sehingga menyebabkan pembelian merek yang sama atau rangakaian merek yang
sama secara berulang, meskipun pengaruh situsional dan upaya pemasan berpotensi
menyebabkan perilaku beralih”
Menurut Khan dan Mahmood (2012), Brand Loyalty dapat didefinisikan
sebagai komitmen tanpa syarat pelanggan dan hubungan yang kuat dengan merek,
yang tidak mungkin terpengaruh dalam keadaan normal.
Menurut firmansyah (2019) Bahwa Brand Loyalty didefinisikan sebagai
tingkatan dimana pelanggan memiliki sikap positif terhadap suatu merek, memiliki
komitmen dan cenderung untuk terus melanjutkan membeli produk dengan suatu
merek tertentu dimasa yang akan datang. Dengan demikian, Brand Loyalty secara
langsung dipengaruhi oleh kepuasan / ketidakpuasan pelanggan terhadap merek
tertentu.
Brand Loyalty berdasarkan teori relationship marketing merupakan tujuan
utama yang harus di pikirkan perusahaan untuk menjaga pelanggannya kamboj dan
rahman (2016). Pada penelitian yang dikembangkan oleh Habibi, Laroche dan
Richad (2016) terbentuk Brand Loyalty dipengaruhi oleh aktivitas value co creation
di dalam komunitas, dimana salah satu aktivitasnya adalah social networking