Kepemimpinan autentik adalah cara kepemimpinan dengan standar dan
nilai-nilai moral internal, pemimpin organisasi atau perusahaan mewakili
model peran untuk memberikan isyarat perilaku dan bimbingan bagi
pengikut atau karyawannya untuk ditiru (Bandura, 1997). Secara sederhana
pemimpin autentik memimpin dengan memberi contoh kepada pengikut
ketika menampakkan kepercayaan, harapan, dan optimisme di tempat kerja.
Pemimpin autentik secara obyektif mengevaluasi semua informasi yang
relevan ketika membuat keputusan, dengan begitu pemimpin autentik
mampu menciptakan lingkungan yang adil dan terbuka di tempat kerja. Pada
tempat kerja seperti itu, karyawan akan memiliki kesadaran untuk saling
membantu orang lain dan didorong untuk melakukannya (Avolio &
Walumba, 2005).
Kepemimpinan autentik mengacu pada teori perilaku yang
dikembangkan oleh Robbins & Judge (2018), dimana dijelaskan
kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari ketidakpuasan terhadap teori yang
mengandung nilai-nilai sifat, karena dinilai tidak dapat menjelaskan
efektivitas kepemimpinan dan gerak hubungan antar manusia. Teori ini
percaya bahwa perilaku pemimpin secara langsung memengaruhi efektivitas
kelompok.
Dalam teori kepemimpinan ini yang menjadi fokus adalah tindakan dari
seseorang pemimpin, bukan melihat kualitas mental atau internal. Pemimpin
autentik adalah seorang pemimpin yang memiliki kepercayaan diri,
optimisme, harapan, efisiensi dan ketahanan. Pemimpin yang mengadaptasi
Kepemimpinan autentik memiliki nilai dan perspektif moral yang jelas,
memiliki pandangan positif ke depan dan menempatkan karyawan untuk
dapat menjadi pemimpin dikepentingan yang tinggi (Avolio dkk., 2006).
Kemudian Qiu dkk (2019) juga menjelaskan dalam penelitianya bahwa
kepemimpinan autentik memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk
mencapai tujuan bersama suatu organisasi maupun perusahaan. Sebelum
lebih jauh kepemimpinan autentik dikembangkan pertama kali oleh Avolio
dan Luthans pada tahun 2003 (Avolio & Garner, 2005).
Avolio dkk (2006) mengemukakan bahwa pemimpin autentik sangat
paham dengan apa yang ada di dalam dirinya, mulai dari cara berpikir serta
bertindak, orang lain beranggapan bahwa pemimpin autentik adalah
seseorang yang memiliki nilai moral yang baik, optimisme, memiliki
harapan, berwawasan luas, dan sadar akan kemampuan yang ada pada
dirinya sekaligus orang sekitarnya. Pemimpin model autentik menggunakan
konsep pengetahuan diri (selfknowledge) untuk mengenali dan mengatasi
kekurangan yang ada dalam dirinya dalam memimpin (Walumbwa dkk.,
2008).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan autentik adalah gaya pemimpin perusahaan yang memiliki
konsistensi dan kedisiplinan yang baik dalam mencapai tujuan, serta
menerapkan nilai-nilai yang ada dalam dirinya sebagai pemimpin organisasi
maupun perusahaan, dan dampaknya karyawan akan mencontoh perilaku
tersebut secara suka rela, sehingga tujuan perusahaan akan dapat tercapai
dengan baik
