Teori Agensi


Potensi konflik antara pemilik perusahaan dan manajer perusahaan
diakibatkan pemisahan pengendalian dan kepemilikan. Tujuan dari pemegang
saham berbeda dengan tujuan dari pihak manajemen. Perusahaan pemegang saham
dapat memiliki saham sehingga pemegang saham tidak memiliki kendali
mengungkapan tujuan dikarenakan memiliki sedikit pengaruh atas pihak
manajemen. Dapat disimpulkan, pemisahan pihak manajemen dan kepemilikkan
akan menciptakan manajemen bertindak untuk kepentingan sendiri daripada
pemegang saham.
Jensen, Meckling (2005:256) menjelaskan teori agensi yang
berkaitan dengan nilai perusahaan karena adanya konflik antara agen dan pemegang
saham perusahaan yang dikenal sebagai principal. Teori ini menunjukkan bahwa
principal dapat menyakinkan dirinya sendiri bahwa para agen akan membuat
keputusan yang optimal hanya jika intensif yang dapat diberikan hanya jika para
agen diawlasi. Intensif juga dapat meliputi opsi saham, bonus , dan penghasilan
tambahan dan hal ini harus secara langsung berhubungan dengan seberapa dekat
keputusan pihak manajemen dengan kepentingan para pemegang saham.
Konsep agency theory menurut Anthony dan Govindarajan dalam
siagan (2011:10) adalah hubungan atau kontak antara principal dan agent.
Principal memperkejakan agent untuk kepentingan principal untuk mendapatkan
profit. Agent memiliki peran membangun nilai perusahaan untuk kepentingan
kepercayaan investor.
Pengendalian perusahaan dan kepemilikan tidak terhindarkan maka
berbagai aktivitas pengawasan dapat menimbulkan biaya. Semakin sedikit
kepemilikan para menejemen, maka sedikit akan kecederungan bertindak secara
konsisten untuk mensejahterahkan pemegang saham dan kebutuhan pengawasan
aktivitas pihak manajemen bagi pemegang saham