Subjective Well-Being dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
a. Harga Diri
Campbell (1981) menemukan bahwa harga diri merupakan prediktor yang
paling penting untuk kesejahteraan subjektif. Harga diri yang tinggi membuat
seseorang memiliki beberapa kelebihan termasuk pemahaman mengenai arti dan
nilai hidup. Hal itu perlu merupakan pedoman yang berharga dalam hubungan
interpersonal dan merupakan hasil alamiah dari pertumbuhan seseorang yang
sehat Ryan & Deci,(2000).
b. Rasa Pengendalian Yang Dapat Diterima
Perasaan untuk memiliki pengendalian personal dapat diartikan sebagai
kepercayaan bahwa seseorang memiliki beberapa faktor ukur pengendalian atas
kejadian-kejadian dalam hidup yang penting bagi dirinya. Sebagai tambahan
tanpa rasa ini, hidup akan dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang kacau balau,
dimana sebagian besar orang akan menjadi tertekan karenanya. Kebutuhan akan
pengendalian yang dapat diterima mungkin menjadi kebutuhan sejak dini
(Ryan&Deci,2000). Meskipun begitu, hal ini tidak berarti seseorang harus
mengendalikan sepenuhnya seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.
Seseorang dengan tempat pengendalian internal yang kuat cenderung menganggap
hasil sebagai akibat dari usaha sendiri daripada akibat faktor-faktor luar maupun
kesempatan.
Banyak peneliti saat ini melihat faktor ini sebagai pengendalian
personal.Peterson (1999) mendefinisikan pengendalian personal sebagai
“anggapan seseorang bahwa dirinya dapat bersikap dengan cara memaksimalkan
hasil yang baik dan meminimalkan hasil yang buruk”. Lebih jauh lagi, rasa
tentang pengendalian personal “menguatkan emosi, motivasi, kebiasaan dan
kekuatan psikologis sesuai dengan kebutuhan” (Peterson&Stunkard,1989).
c. Sikap Introvert Dan Ekstrovert
Beberapa studi bahkan melaporkan 0,80 antara sifat ekstrovert dan
kebahagiaan yang dinilai oleh diri sendiri (Fujita, 1991). Juga, sifat ekstrovert
telah dipergunakan untuk memprediksi tingkat kebahagiaan sampai tiga puluh
tahun setelah tes awal dilakukan (Costa&McCrae,1986). Sementara variabel ini
secara konsisten dihubungkan dengan kesejahteraan Subjektif, tidak berarti bahwa
seseorang dengan sifat introvert selalu merasakan depresi dan bosan.
Studi-studi yang dilakukan belakangan ini juga melihat bagaimana sifat
ekstrovert berpengaruh pada kesejahteraan. Para peneliti pada awalnya
berpendapat bahwa komponen sosial sifat ekstrovert adalah hal yang paling
berhubungan dengan kesejahteraan (Bradburn, 1969). Para peneliti percaya,
karena orang yang lebih banyak bergaul memiliki kesempatan yang lebih besar
untuk sebuah hubungan yang positif dengan orang lain dan lebih banyak
kesempatan untuk mendapatkan umpan balik positif mengenai dirinya dari orang
lain, ini diartikan sebagai kesejahteraan yang lebih baik.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa orang ekstrovert cenderung berada
pada tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi karena mereka mempunyai kepekaan
yang lebih besar terhadap imbalan yang positif (Rusting&Larsen,1998) atau
mungkin mereka mempunyai reaksi yang lebih kuat terhadap peristiwa yang
menyenangkan (Larsen&Ketelaar,1991)
d. Optimisme
Pada umumnya, orang yang lebih optimis tentang masa depannya
dilaporkan merasa lebih bahagia dan puas atas hidupnya (Diener et al,1999).
Orang yang mengevaluasi dirinya secara positif beranggapan bahwa dia dapat
mengendalikan aspek-aspek penting dalam hidupnya dan orang yang berhasil
dalam berinteraksi tampaknya akan memandang masa depan dengan penuh
harapan dan ekspektasi positif.
e. Hubungan sosial
Hubungan yang positif antara kesejahteraan subjektif yang tinggi dan
kepuasaan terhadap keluarga serta teman adalah salah satu dari sedikit hubungan
yang ditemukan secara universal dalam berbagai studi lintas budaya mengenai
kesejahteraan (Diener,Oishi &Lucas,2003). Pada umumnya, ada dua aspek yang
berkaitan dengan hubungan sosial yang positif, yaitu : dukungan sosial dan
keintiman emosional. Beberapa studi (Sarason& Pierce,1990) telah mencatat
pengaruh positif pada kesejahteraan yang dapat ditimbulkan oleh dukungan sosial
yang baik. Anggapan bahwa seseorang berada dalam hubungan sosial yang
mendukung dikaitkan dengan harga diri yang lebih tinggi, keberhasilan mengatasi
stress, kesehatan yang lebih baik dan lebih sedikit masalah psikologis yang
timbul.
f. Keintiman emosional
Prediktor ini lebih kuat dari prediktor lain seperti kesejahteraan secara
materi, kesehatan, dan kesenangan. Salah satu faktor yang menonjol adalah bahwa
kelompok yang paling bahagia memiliki kehidupan sosial yang luas. Pada studi
tentang persahabatan, Parlee (1979) oleh kelompok pertemanan perempuan adalah
memiliki percakapan intim. Meskipun ada asumsi budaya tertentu tentang laki-
laki dan keintiman emosi, mempunyai percakapan yang intim adalah hal kedua
yang paling sering dilaporkan (80 persen) dalam pengalaman pertemanan kaum
laki-laki.
g. Kontak Sosial
Kontak Sosial yang positif tampaknya juga dapat meningkatkan
kesejahteraan, hubungan antara kesejahteraan subjektif dan hubungan sosial yang
positif dapat bersifat timbal balik.
h. Religiusitas
Berbagai penelitian di Amerika telah menemukan bahwa terdapat korelasi
yang signifikan antara kebahagiaan dengan keyakinan seseorang akan agamanya,
kekuatan hubungan seseorang dengan Tuhannya, ibadah, serta partisipasi dalam
kegiatan keagamaan (Eddington & Shuman, 2005). Hal ini dapat terjadi karena
pengalaman religius ataupun kepercayaan yang dimiliki seseorang membuat
seseorang memiliki perasaan bermakna dalam 21 kehidupannya (Pollner, dalam
Eddington & Shuman, 2005). Agama atau religi juga mampu memenuhi
kebutuhan sosial seseorang melalui kegiatan agama yang dilakukan secara
bersama-sama ataupun karena berbagi nilai dan kepercayaan yang sama.
Misalnya kegiatan-kegiatan yang diadakan suatu gereja dapat membuat anggota
gereja tersebut menjalin hubungan pertemanan dengan anggota lainnya. Ataupun
dengan menganut agama tertentu dapat membuat diri seseorang merasa bahwa ia
menjadi bagian kelompok orang yang memegang nilai dan kepercayaan yang
sama
