Karakteristik Budaya Organisasi


Stephen P. Robbins dalam Sinambela (2018:558)
Mengemukakan bahwa “terdapat sepuluh karakteristik yang apabila
dicampur atau dicocokan, akan menjadi budaya organisasi.”
Kesepuluh karakteristik budaya organisasi tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Inisiatif individual
Yang dimaksud inisiatif individual adalah tingkatan tanggung
jawab, kebebasn atau independensi yang dipunyai setiap
individu dalam mengemukakan pendapat. Inisiatif individu
tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau pimpinan suatu
organisasi sepanjang menyangkut ide atau untuk memajukan
dan mengambangkan organisasi.
2) Toleransi terhadap tindakan yang beresiko
Dalam budaya organisasi perlu ditekankan, sejauh mana para
pegawai dianjurkan untuk dapat bertindak agresif, inovatif, dan
mengambil resiko. suatu budaya organisasi dikatakan baik,
apabila dapat memberikan toleransi kepada para pegawai untuk
dapat bertindak agresif dan inovatif untuk memajukan organisasi
serta bernai mengambil risiko terhadap apa yang dilakukannya.
3) Pengarahan
Pengarahan dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi dapat
menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan yang diinginkan.
Sasaran dan harapan tersebut jelas tercantum dalam visi, misi
dan tujuan organisasi. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap
kinerja organisasi.
4) Integrasi
Integrasi dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi dapat
mendorong unit – unit organisasi untuk bekerja dengan cara
yang terkoordinasi. Kelompokan unit – unit organisasi dalam
bekerja dapat mendorong kualitas dan kuantitas pegawaian yang
dihasilkan .
5) Dukungan manajemen
Dukungan manajemen dimaksudkan sejau mana para manajer
dapat memberikan komunikasi atau arahan, bantuan serta
dukungan yang jelas terhadap bawahan. Perhatian manajemen
terhadap bawahan atau pegawai sangat membantu kelancaran
kinerja suatu organisasi.
6) Kontrol
Alat kontrol yang dapat dipakai adalah peraturan – peraturan
atau norma – norma yang berlaku dalam suatu organisasi atau
organisasi. Untuk itu diperlakukan sejumlah peraturan dan
tenaga pengawas atau atasan langsung yang dapat digunakan
untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku pegawai dalam
suatu organisasi.
7) Identitas
Identitas dimaksudkan sejauh mana para anggota suatu
organisasi dapat mengidentifikasi dirinya sebagai satu kesatuan
dalam organisasi dan bukan sebagai kelompok kerja tertentu
atau keahlian profesional tertentu. Identitas diri sebagai satu
kesatuan dalam organisasi sangant membantu manajemen dalam
mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
8) Sistem imbalan
Sistem imbalan dimaksudkan sejauh mana alokasi imbalan
misalnya kenaikan gaji, promosi, bonus, insentif, dan
sebagainya, didasarkan didasarkan atas prestasi kerja pegawai,
bukan sebaliknya didasarkan atas senioritas, sikap pilih kasih,
dan sebagainya. Sistem pegawai suatu organisasi untuk
bertindak dan berprilaku inovatif dan mencari prestasi kerja
yang maksimal sesuai kemampuan dan keahlian yang
dimiliknya, sebaliknya jika sistem imbalan yang didasarkan atas
senioritas dan pilih kasih, akan berakibat tenaga kerja yang
mempunyai kemampuan dan keahlian dapat berprilaku pasif dan
frustasi. Kondisi semacam ini dapat berakibat kinerja organisasi
menjadi terhambat.
9) Toleransi terhadap konflik
Sejauh mana para pegawai didorong untuk mengemukakan
konflik dan kritik secara terbuka. Perbedaan pendapat
merupakan fenomena yang sering terjadi dalam suatu organisasi.
Meskipun demikian, perbedaan pendapat atau kritik yang terjadi
bias dijadikan sebagai media untuk melakukan perbaikan atau
perubahan strategi untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
10) Pola komunikasi
Sejauh mana komunikasi dibatasi oleh hierarki kewenangan
yang formal. Kadang – kadang hirarki kewenangan dapat
menghambat terjadinya pola komunikasi antara atasan dan
bawahan atau antar pegawai itu sendiri.
Cadwell dalam Sinambela (2018;560), juga mengemukakan
“tujuh karakteristik primer yang merupakan hakikat dari budaya
organisasi.” Ketujuh karakteristik tersebut, yaitu sebagai berikut:
1) Inovasi dan pengambilan risiko, sejauh mana para pegawai
didirong untuk inovasi dan pengambilan risiko.
2) Perhatian, sejauh mana pegawai diharapkan memperhatikan
persis (kecermatan dan analisis).
3) Orientasi hasil, bukan pada teknik proses tetapi sejauh mana
manajemen memfokuskan pada hasil.
4) Orientasi orang, sejauh mana keputusan manajemen
memperhitungkan efek keberhasilan orang – orang didalam
organisasi.
5) Orientasi tim, sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan
kepada tim bukannya individu – individu.
6) Keagresifan, sejauh mana orang – orang itu agresif (kreatif) dan
kompetitif.
7) Kemantapan, sejauh mana kegiatan organisasi menkankan
dipertahankannya status quo.
Setiap karakteristik ini berlangsung pada suatu garis
kontinum dari rendah ke tinggi, gambaran majemuk budaya
organisasi akan diperoleh dengan menilai organisasi berdasarkan ke
tujuh karakteristik tersebut. Gambaran menjadi dasar untuk
pemahaman bersama yang dimiliki para anggota organisasi itu
bagaimana permasalahan itu diselesaikan dan cara pada anggota itu
berprilaku