Komitmen karyawan adalah kekuatan yang bersifat relatif dari individu
dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi. Hal
ini dapat ditandai dengan tiga hal, yaitu penerimaan terhadap nilai-nilai, kesiapan
dan kesediaan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, dan keinginan untuk
mempertahankan keanggotaan. Komitmen karyawan merupakan suatu kekuatandalam diri individu untuk mengidentifikasi keterlibatan dirinya terhadap suatu
pekerjaan (Mowday, dkk., 1982).
Meyer (1997) juga menyatakan bahwa karyawan yang memiliki
komitmen akan bekerja dengan penuh dedikasi karena karyawan yang memiliki
komitmen tinggi menganggap bahwa hal penting yang harus dicapai adalah
pencapaian tugas. Karyawan yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi juga
memiliki pandangan yang positif dan akan melakukan yang terbaik untuk
kepentingan karyawan.
Shadur, Kinzle, dan Rodwell (dalam Dhita, 2014) memberikan
pengertian bahwa karyawan yang mempunyai komitmen terhadap satuan kerja
menunjukkan kuatnya pengenalan dan keterlibatan karyawan dalam satuan kerja
yang dinyatakan sebagai berikut“Organizational commitment was defined as the
strenght of an individual’s identification with and involvement in a particular
organization.” Karyawan yang memiliki komitmen terhadap satuan kerja
kemungkinan untuk tetap bertahan lebih tinggi daripada karyawan yang tidak
mempunyai komitmen.
Husselid dan Day (dalam Meyer, 1997) menyatakan bahwa komitmen
karyawan dapat mengurangi keinginan untuk melepaskan diri dari organisasi atau
unit kerja.
Sedangkan menurut Robbins (2001) komitmen karyawan pada suatu
pekerjaan adalah suatu keadaan dimana karyawan memihak kepada pekerjaan
tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaanya dalam
organisasi itu. Tanpa komitmen, sulit mengharapkan partisipasi aktif dan
mendalam dari sumber daya manusia. Tapi komitmen bukanlah sesuatu yang
dapat hadir begitu saja, komitmen harus dilahirkan. Oleh sebab itu komitmen
harus dipelihara agar tetap tumbuh dan eksis disanubari sumber daya manusia.
Dengan cara dan teknik yang tepat pimpinan yang baik bisa menciptakan dan
menumbuhkan komitmen.
Lebih lanjut Biljana (dalam Dhita, 2014) menyatakan penting bagi
manajemen untuk membangun dan mengelola komitmen karyawan. Bukti-bukti
empiris menunjukkan bahwa komitmen afektif memiliki hubungan yang sangat
kuat terhadap keberhasilan tujuan dari suatu organisasi. Sehingga harus
diwujudkan kebijakan yang akan meningkatkan komitmen tersebut. Kebijakan ini
dibagi dalam dua bagian, yaitu kebijakan jangka pendek dan jangka panjang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan komitmen karyawan
merupakan suatu kekuatan dalam diri individu untuk mengidentifikasi keterlibatan
dirinya terhadap suatu pekerjaan serta memiliki komitmen tinggi dan menganggap
bahwa hal penting yang harus dicapai adalah pencapaian tugas yang mencakup
unsur loyalitas terhadap pekerjaan, keterlibatan dalam pekerjaan, dan identifikasi
terhadap nilai dan tujuan pekerjaan
