Manajemen Rantai Pasok


Manajemen Rantai Pasok pertama kali dikemukakan oleh Oliver dan Weber
pada tahun 1982 (cf. Oliver dan Weber, 1982; Lambert et al. 1998) merupakan suatu
metode, alat atau pendekatan dalam pengelolaannya. Namun perlu ditekankan
kembali bahwa SCM menghendaki pendekatan serta metode yang terintergrasi
dalam dasar semangat kolaborasi. Dengan demikian SCM tidak berorientasi pada
urusan internal dalam perusahaan, namun juga urusan eksternal yang menyangkut
hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama.
Menurut Heizer dan Render (2005) manajemen rantai pasokan (SCM)
merupakan pengintegrasian aktivitas mengenai pengadaan bahan dan pelayanan,
pengubahan bahan menjadi barang setengah jadi, produk akhir, serta proses
pengiriman ke pelanggan. Menurut Hanna and Newman (2001) SCM didefinisikan
sebagai konfigurasi, koordinasi serta peningkatan dari sebuah gabungan rangkaian
operasi yang saling terkait. Menurut Vrijhoef and Koskela (1999) SCM merupakan
suatu konsep sistem pasokan yang dipelopori oleh Toyota dalam mengkoordinasi
serta mengatur pemasok untuk mengurangi pemborosan dalam produksinya. SCM
tidak jauh berbeda dari pengertian lean supply, Just in Time (JIT) dan manajemen
logistik.
Menurut Tampubolon (2014) manajemen rantai pasok merupakan
seperangkat pendekatan yang efisien untuk digunakan serta mampu
mengintergrasikan pemasok, produsen, bahkan gudang sekalipun diintergrasikan
dengan toko-toko sehingga barang yang diproduksi mampu didistribusikan ke
lokasi dengan tepat, waktu yang tepat serta mampu meminimalisasi waktu yang
tepa dan jangkauan sistem dengan biaya yang sesuai dengan persyaratan tingkat
pelayanan. Manajemen rantai pasok merupakan pengawasan bagi bahan, informasi,
keuangan sebagai pergerakan suatu proses dari pemasok ke produsen ke grosir ke
pengecer kepada konsumen, serta mengintergrasikan arus baik di dalam dan
diantara perusahaan