Berdasarkan teori CAPM, koefisien beta saham merupakan indikator yang
memengaruhi return saham dan memiliki hubungan yang positif dengan return
saham (Supadi dan Amin, 2012). Hal ini sesuai dengan konsep high risk high
return, yaitu apabila investor bersedia menanggung risiko yang tinggi, maka imbal
hasil yang diperolehnya juga tinggi. Risiko sistematis yang tinggi memotivasi
manajemen perusahaan untuk mengelola perusahaan sebaik-baiknya (Solechan,
2010). Hal ini mendorong perus-ahaan untuk berkinerja semakin baik sehingga
meningkatkan kepercayaan investor dan permintaan akan saham terkait yang
berujung pada mening-katnya return saham. Beberapa bukti empiris tentang
pengaruh beta (β) terhadap return saham pun menunjukkan hasil yang berbeda,
seperti yang telah dilakukan oleh Nasaer (2007) menghasilkan bahwa beta (β) berpengaruh signifikan terhadap return saham sedangkan penelitian yang dil-akukan
oleh Solechan (2008) menghasilkan bahwa beta (β) tidak ber-pengaruh terhadap
return saham
