Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.

  1. Transcendental Approach
    Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
    sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
    dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini menegaskan
    bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui pengallaman
    didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure). Misalkan produk atau
    jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa.
  2. Product based approach
    Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
    komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur.
    Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor, kapasitas
    memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran dan berat yang
    berbeda-beda.
  3. User based approach
    Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang
    yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang paling memuaskan
    preferensi seseorang (maximum satisfaction) merupakan produk yang berkualitas
    paling tinggi. Perspektif yang bersifat subyektif dan demand oriented ini juga
    menyatakan bahwa setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-
    masing yang berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
    dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau makanan
    manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya masing-masing.
  4. Manufacturing based approach
    Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktikpraktik
    perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai
    kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to requirement).
  5. Value based approach
    Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga (price).
    Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan
    sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja terbaik atau yang sepadan
    dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam persepektif ini bersifat relatif,
    sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang
    paling bernilai. Contohnya, mobil ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil
    mobil mewah yang berkualitas