Bandura (dalam Alwisol, 2007) menjelaskan bahwa sumber self –efficacy
individu didasarkan pada empat hal, yaitu:
a.Mastery experience ( pengalaman-pengalaman tentang penguasaan )
Performa-performa yang sudah dilakukan di masa lalu. Biasanya kesuksesan
kinerja akan membangkitkan ekspektual-ekspektasi terhadap kemampuan diri
untuk mempengaruhi hasil yang diharapkan, sedangkan kegagalan cenderung
merendahkannya. Pertanyaan umum ini memiliki enam konsekuensi praktis.
Pertama, kesuksesan kinerja akan membangkitkan self-efficacy dalam menghadapi
kesulitan tugas. Kedua, tugas yang dikerjakan dengan sukses akan
membangkitkan self-efficacy ketimbang kesuksesan membantu orang lain. Ketiga,
kegagalan tampaknya lebih banyak menurunkan self-efficacy.Terutama jika kita
sadar mengupayakan yang terbaik, sebaliknya kegagalan karena tidak berupaya
maksimal tidak begitu menurunkan self- efficacy.Keempat, kegagalan dibawah
kondisi emosi yang tinggi atau tingkatan stress yang tinggi self- efficacy-nya tidak
selemah daripada kegagalan dibawah kondidi-kondisi maksimal. Kelima,
kegagalan sebelum memperoleh pengalaman-pengalaman tentang penguasaan
lebih merusak self-efficacy daripada kegagalan sesudah memperolehnya.
Keenam.Kegagalan pekerjaan memiliki efek yang kecil saja bagi self- efficacy,
khususnya bagi mereka yang memiliki ekspektasi kesuksesan tinggi.
b.Vicariouos experience atau pemodelan sosial (meniru )
Pengalaman-pengalaman yang tidak terduga (vicariouos experience) yang
disediakan oleh orang lain. Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki
kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan
meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama.
Apabila orang lain tidak setara dengan kita, pemodelan sosial hanya memberikan
efek kecil saja bagi self-efficacy. Secara umum efek-efek pemodelan sosial dalam
meningkatkan self-efficacy tidak sekuat performa sosial. Sebaliknya, pemodelan
sosial dapat memiliki efek kuat jika berkaitan dengan ketidakpercayaan diri.
c Social Persuasion ( Persuasi Sosial )
Self- efficacy dapat juga diraih atau dilemahkan lewat persuasi sosial ( Bandura,
dalam Alwisol, 2007). Efek dari sumber ini agak terbatas namun dalam kondisi
yang tepat, persuasi orang lain dapat meningkatkan atau menurunkan self-efficacy.
Kondisi pertama yang dimaksudkan adalah seseorang harus percaya kepada
pembicara. Penolakan atau kritik dari sumber yang dipercaya ini memiliki efek
yang lebih kuat pada self- efficacy daripada sumber yang tidak dipercaya.
Meningkatkan self-efficacy lewat persuasi social akan efektif hanya jika aktivitas
yang diperkuat termasuk dalam perilaku yang diulang-ulang.
d.Physical & Emotional States ( Kondisi Fisik dan Emosi )
Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa. Kecemasan dan stress
yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai
suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan
keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak
merasakan adanya keluhan atau gangguan somatic lainnya. Self-efficacy biasanya
ditandai oleh rendahnya tingkat stres dan kecemasan yang tinggi pula.
