Self-Efficacy pertama kali diperkenalkan oleh Bandura (dalam Alwisol,
2007). Self-efficacy merupakan kepercayaan seseorang terhadap kemampuan
dirinya dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik yang didasarkan atas
keyakinan diri akan kemampuan dalam bidang pendidikan. Penyelesaian tugas
tersebut berkaitan dengan target hasil dan waktu yang telah ditentukan. Disamping
itu self-efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan
menyelesaikan tugas-tugas akademik yang didasarkan atas kesadaran diri tentang
pentingnya pendidikan, nilai dan harapan pada hasil yang akan dicapai kegiatan
belajar.
Bandura (dalam Alwisol, 2007) juga menyatakan bahwa ada beberapa
faktor dalam hubungannya dengan belajar sosial seperti perilaku, person/kogntif,
dan lingkungan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi untuk mempengaruhi
pembelajaran yakni faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku
mempengaruhi lingkungan, faktor person (kognitif) mempengaruhi perilaku dan
sebagainya. Dalam pembelajaran faktor person (kognitif) memainkan peranan
yang sangat penting. Faktor person ( Kognitif ) yang ditekankan Bandura
belakangan ini adalah self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang bisa
menguasasi situasi dan menghasilkan hasil positif. Bandura juga mengatakan
bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya seorang murid
yang self-efficacy-nya rendah tidak mau berusaha belajar untuk mengerjakan soal
ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar akan membantunya mengerjakan
soal.
Bandura (dalam Alwisol, 2007) menambahkan bahwa self-efficacy
mengacu pada persepsi tentang kemampuan individu untuk mengorganisasikan
dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu.
Perasaan self-efficacy siswa juga mempengaruhi pilihan aktivitas mereka, tujuan
mereka dan aktivitas mereka dalam kelas, yang pada akhirnya mempengaruhi
pembelajaran dan prestasi mereka.
Asumsi yang muncul dari pernyataan diatas bahwa self-efficacy
berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya, seorang murid yang self-
efficacynya rendah mungkin tidak mau berusaha belajar untuk mengerjakan ujian
karena dia tidak percaya bahwa belajar akan bisa membantunya mengerjakan soal.
Kemudian, orang dengan self-efficacy yang tinggi lebih mungkin
mengerahkan segenap tenaga ketika mencoba suatu tugas baru. Mereka juga lebih
gigih dan tidak mudah menyerah (untuk mencoba dan mencoba lagi) ketika
menghadapi tantangan. Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung lebih
banyak belajar dan berprestasi daripada mereka yang self-efficacy-nya rendah, dan
orang dengan self- efficacy yang rendah akan bersikap setengah hati dan begitu
cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Self-efficacy pribadi itu didapatkan, dikembangkan atau diturunkan
melalui satu atau lebih dari kombinasi empat sumber berikut (Bandura, dalam
Alwisol, 2007):
(1) Pengalaman-pengalaman tentang penguasaan (Mastery Experiences ),
(2) Pemodelan sosial (Social Modeling )
(3) Persuasi sosial ( Social Persuation )
(4) Kondisi fisik dan emosi (Physical and Emotional States )
Bandura ( dalam Alwisol, 2007) mendefenisikan bahwa self-efficacy
adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas
atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu.
Meskipun Bandura menganggap bahwa self-efficacy terjadi pada suatu
kemampuan fenomena situasi khusus, para peneliti yang lain telah membedakan
self-efficacy khusus dari self-efficacy secara umum atau generalized self-efficacy
secara umum menggambarkan suatu penilaian dari seberapa baik seseorang dapat
melakukan suatu perbuatan pada situasi yang beraneka ragam. Selanjutnya
Bandura juga mengatakan bahwa self-efficacy pada dasarnya adalah hasil
proses kognitif berupa keputusan, keyakinan, atau penghargaan tentang sejauh
mana individu memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas
atau tindakan tertentu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Menurut Bandura, self-efficacy tidak berkaitann dengan kecakapan yang dimiliki,
tapi berkaitan dengan keyakinan individu mengenai hal apa yang dapat dilakukan
dengan kecakapan yang ia miliki seberapa pun besarnya.
Self-efficacy menekankan pada komponen keyakinan diri yang dimiliki
seseorang dalam menghadapi situasi yang akan datang yang mengandung
kekaburan, tidak dapat diramalkan, dan sering penuh dengan tekanan. Meskipun
self-effiicacy memiliki suatu pengaruh sebab-musabab yang besar pada tindakan
kita, self-efficacy berkombinasi dengan lingkungan, perilaku sebelumnya, dan
variabel-variabel personal lainnya, terutama harapan terhadap hasil untuk
menghasilkan perilaku. Self-efficacy akan mempengaruhi beberapa aspek dari
kognisi dan perilaku seseorang
