Stres kerja merupakan reaksi yang paling umum terjadi saat adanya
beban kerja yang berlebihan dan menjadi masalah yang nyata saat ini
(Harshana, 2018). Stres kerja tercipta saat tekanan dan tanggung jawab
yang harus dijalankan di tempat kerja berada di atas kemampuan dan
keterampilan pekerja. Demand yang terlalu tinggi dan kemampuan untuk
melakukan pengambilan keputusan yang rendah menjadi penyebab
terjadinya stres kerja. Stres kerja memberikan efek negatif pada kesehatan
seseorang seperti hilangnya kesadaran emosional dan fisiologis yang
menjadikan seseorang rentan merasa depresi dan cemas (Rostam, 2020).
Stres kerja memiliki dampak nyata terhadap kepuasan dan motivasi kerja.
Saat stres kerja meningkat, kepuasan kerja bernilai negatif atau rendah
(Hoboubi et al., 2016).
Stres kerja berkaitan dengan bagaimana respons yang diberikan
individu dalam pertemuan antara sumber-sumber stres kerja dengan
kapasitas dirinya. Respons positif akan melahirkan semangat baru bagi
pekerja, sebaliknya respons negatif menimbulkan tekanan. Namun
umumnya stres kerja berkaitan dengan respons negatif (Bachroni &
Asnawi, 2017). Menurut World Health Organization (WHO) stres kerja
juga dipengaruhi oleh kerja organisasi dan manajemen yang buruk,
kurangnya dukungan dari rekan kerja dan atasan, dan desain pekerjaan
yang tidak mumpuni. Stres kerja dapat menyerang pekerja ditingkat bisnis
manapun, tidak terbatas pada sektor, industri, atau pekerjaan tertentu.
Karyawan yang mengalami stres memerlukan banyak waktu dan energi
untuk mengatasi hal tersebut yang berakibat pada penurunan efisiensi
kerja (Nawaz Kalyar et al., 2019; K. S. H. Purnomo et al., 2021; Yunus et
al., 2018). Menurut Handoko (2011) stres kerja merupakan ketegangan
yang berpengaruh terhadap proses berpikir, emosi, dan kondisi seseorang.
Stres ini dapat menimbulkan berbagai macam gejala yang mempengaruhi
kemampuan individu dalam menghadapi lingkungan. Pekerja dengan stres
kerja tinggi cenderung merasa khawatir yang berlebihan, agresif dan
mudah marah, dan menunjukkan sikap tidak kooperatif. Mereka biasanya
menjadikan alkohol dan rokok sebagai pelarian yang akhirnya
menimbulkan berbagai penyakit fisik, seperti sulit tidur, masalah
pencernaan, dan tekanan darah tinggi. Permasalahan stres kerja ini
dianggap penting karena berkaitan dengan inefisiensi organisasi,
penurunan kualitas dan kuantitas operasi kerja, kepuasan dan kinerja,
ketidakhadiran karena sakit, peningkatan biaya perawatan kesehatan, dan
tingkat keluar yang tinggi (Kar & Mishra, 2016)
