Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin
pesat, dunia bisnis dituntut untuk selalu memperbarui strategi
pemasarannya agar lebih inovatif dalam menciptakan produk
hingga melakukan promosinya. Saat ini strategi pemasaran
yang sedang banyak digunakan adalah metode pemasaran yang
menggunakan influencer sebagai medianya. Para influencer
adalah mereka yang dipercaya dan digemari oleh sebagian
masyarakat, apapun yang dipakai dan dilakukan akan selalu
menjadi sorotan bagi orang banyak. Seorang influencer dapat
menciptakan citra merek produk yang lebih baik dan dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan brand
endorser artis atau figur publik yang sudah berada kalangan
artis papan atas. Seorang influencer secara umum biasanya
dipilih berdasarkan kemampuan, keahlian, tingkat popularitas,
maupun reputasi yang dimilikinya (Hariyanti & Wirapraja,
2018). Kepribadian generasi milenial yang dekat dengan dunia
internet, lebih menyukai pendekatan secara online berupa User
Generated Content (UGC) yang dibuat oleh perseorangan.
Mereka menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pembelian produk berdasarkan review atau testimoni dari
orang yang sudah membeli atau menggunakan produk tersebut
(Arini, Angga, & Putra, 2019). Oleh sebab itu menggunakan
influencer sebagai media promosi merupakan hal yang efektif
karena masing-masing influencer memiliki cara yang berbeda
dalam melakukan promosi produk secara soft selling, hal ini
diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan massa dan
meningkatkan brand awareness.
Indikator influencer marketing menurut Hovland, Janis dan
Kelly, 1953 yang dikutip oleh Sugiharto & Ramadhana, 2018
“kredibilitas disusun menyimpulkan dari pembahasan-
pembahasan sebelumnya bahwa itu memiliki 3 komponen
yaitu trustworthiness, expertise, dan attractiveness”.
- Trustworthiness
Menurut Shimp (2007), trustworthiness mengarah pada
kemampuan sumber yang dilihat memiliki kejujuran,
integritas dan dapat dipercaya. Influencer yang dipercaya
dapat mempengaruhi audience meskipun memiliki
kemampuan yang biasa-biasa saja - Expertise
Menurut Shimp (2007), expertise mengarah pada
pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
seorang influencer yang dapat dikaitkan dengan merek
yang sedang di iklan-kan - Attractiveness
Attractiveness menurut Shimp (2007), yaitu mengarah
kepada diri yang menurut audience dianggap memiliki
daya tarik fisik yang menarik. Menurut Mowen dan Minor
(2002), karakteristik influencer harus sesuai dengan
produk yang mereka bawakan. Jika audience merasa
tertarik dengan influencer, hal tersebut dapat mempersuasi
dengan mudah melalui ketertarikan dari inflluencer
tersebut.
