Risiko dan Manajemen Risiko


Pengertian mengenai risiko hingga saat ini masih beragam. Beberapa pengertian
dari risiko antara lain : Risiko adalah ancaman untuk mencapai tujuan entitas
(IIARF, 2003), Risiko merupakan penyebaran atau penyimpangan hasil actual
dari hasil yang diharapkan (Hermawan Darmawi), Risiko adalah kondisi dimana
adanya exposure to adversity (Reto Gallati (2003), dan Risiko adalah
kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan mepengaruhi objek, dan hal ini
diukur dengan frekuensi dan konsekuensi. Sedangkan Manajemen Risiko adalah
sebuah proses dan struktur yang diarahkan menuju manajemen yang efektif (The
Australian New Zealand Standart for Risk) (AS/NZS 4360:1999) Hilson (2001),
dan Menurut Djojosoedarso (2003) Manajemen Risiko adalah pelaksanaan
fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, termasuk risiko yang
dihadapi oleh organisasi atau perusahaan, keluarga dan masyarakat.
Menjelaskan bahwa risiko memiliki makna ganda yaitu dengan efek positif yang
disebut sebagai kesempatan atau opportunity, dan risiko yang membawa efek
negative yang disebut dengan ancaman atau theat. Namun risiko pada umumnya
dilihat sebagai sesuatu yang negative, seperti kehilangan, bahaya dan
konsekuensi lainnya. Risiko lebih dikaitkan dengan kerugian yang dikaitkan
oleh kejadian yang mungkin terjadi dalam waktu tertentu (Frosdick, 1997).
Kerugian tersebut sebenarnya merupakan bentuk ketidakpastian yang
seharusnya dimengerti dan diolah secara efektif oleh perusahaan sebagai bagian
dari strategi, sehingga dapat menjadi nilai tambah dan mendukung pencapaian
tujuan perusahaan. Dengan demikian risiko dapat dikatakan sebagai suatu
kesempatan, dalam terminology kuantitatif, dari suatu kejadian bahaya yang
didefinisikan. Terminologi dimaksud didapat dari pengukuran probabilitas
terjadinya suatu kejadian dan dikombinasikan dengan pengukuran konsekuensi
dan kejadian tersebut (Norman dan Jansson, 2004).
Tujuan Manajemen Risiko menurut The Australia New Zealand Standart for
Risk (AS/NZS 4360:1999), adalah agar perusahaan dapat meminimumkan
kerugian memaksimalkan kesempatan yang dapat mempengaruhi perusahaan.
Manajemen Risiko bukan merupakan hal baru dan sudah menjadi bagian dari
aktivitas manajemen yang perlu dilakukan (Shortreed et al, 2003). Dalam
aplikasinya terdapat lebih dari delapan puluh kerangka kerja Manajemen Risiko
yang digunakan di seluruh dunia. Kerangka kerja tersebut tidak selalu sama
disetiap organisasi, pada umumnya melalui tahap adaptasi dengan keaadaan
organisasi, / seharusnya mampu mengkomodasi reduksi, pengambilan keputusan
atau manajemen korporasi dan penaksiran risiko serta pengambilan tindakan
pada risiko. Adapun kerangka kerja manajemen risiko yang digunakan adalah
The Australia New Zealand Standart for Risk (AS NZS 4360 :1999 ).
Menurut Shortreed et al (2003), The Australian New Zealand Standart for Risk
(AS / NZS 4360:1999) memiliki beberapa keungulan dibanding standar lainnya
yaitu mencakup adannya feddback loop dan monitor secara continue, juga
adanya komunikasi dan konsultasi, selain itu juga ada tahapan dimana pihak
pengambil keputusan dan penganalisa melakukan inisiasi awal yang disebut
sebagai contexs, adannya penetapan criteria mengenai risiko seperti apa yang
akan dianalisa terlebih dahulu didefinisikan, dan memisahkan antara risiko yang
tidak dapat diterima. Berikut adalah penjelasan singkat langkah – langkah dalam
manajemen risiko menurut The Australian New Zealand Standart for Risk
(AS/NZS 4360 : 1999)

  1. Penetapan ruang lingkup
    Tahap pertama adalah menetapkan ruang lingkup yang mencakup
    keterkaitan dampak risiko dan starategi perusahaan dengan manajemen
    risiko sebagai pedoman penanganan risiko lebih lanjut. Kemudian
    menentukan criteria untuk evaluasi risiko, hal ini biasanya dilakukan oleh
    pihak perusahaan. Untuk menetapkan ruang lingkup dan metode digunakan
    data hstoris dan wawancara dengan pihak ahli yang mengerti perusahaan dan
    unit yang dianalisa.
  2. Identifikasi risiko
    Identifikasi dampak risiko merupakan langkah untuk mengetahui risiko lebih
    dalam, yaitu meliputi risiko apa saja yang dapat terjadi dan bagaimana dapat
    terjadi, termasuk pula yang dapat digunakan adalah data history,
    brainstorming, dan analisis system lainnya.
  3. Analisis Risiko
    Analisa dilakukan untuk memilah – milah risiko, bisa dilakukan secara
    kualitatif, semi – kualitatif, dan kuantitatif. Pengunaan metode ini tergantung
    pada kondisi atau keadaan pada system, informasi risiko serta ketersediaan
    data. Pada praktiknya metode kualitatif sering digunakan terlebih dahulu
    untuk mendapatkan indikasi untuk level risiko. Untuk analisa semi kualitatif
    di kombinasikan dengan perumusan yang tersedia dan keadaan pada system
    agar menghasilkan nilai yang lebih daripada seperti pada analisis kualitatif,
    walaupun tidak dapat memberikan nilai sebenarnya seperti pada analisis
    kualitatif. Dan pada analisis kuantitatif, digunakan atau sebenrnya atau
    permodelan untuk mendapatkan nilai numeric, bukan skala seperti dua
    metode sebelumnya, namun pada analisis kuantitatif akan diperlukan
    adannya analisa sensitivitas untuk mengetahui efek perubahan yang bisa
    terjadi. Untuk menghindari adanya penilaian subjektif bisa terhadap penetan
    likelihood dan impact, digunakan sumber informasi yang terbaik dan alat
    yang kompeten
    Sumber informasi tersebut meliputi :
  4. Dokumen masa lalu
  5. Pengalaman yang relevan
  6. Pegalaman dan praktik industry
  7. Literatur relevan
  8. Rist pasar
  9. Penilaian spesialis dari para ahli
    Sementara teknik yang dapat digunakan seperti :
  10. Wawancara dengan para ahli pada objek yang diteliti
  11. Pengunaan tenaga ahli multi – disiplin
  12. Evaluasi individu dengan kuesioner
  13. Permodelan matematis, computer, dan lain – lain
  14. Pengunaan fault three dan event tree
  15. Evaluasi risiko
    Evaluasi risiko mencakup perbandingan dari tingkat risiko yang ditemukan
    selama proses analisis dengan criteria risiko yang dibuat sebelumnya. Hasil
    dari evaluasi risiko adalah berupa daftar tingkat prioritas risiko untuk
    tindakan lebih lanjut. Jika risiko tidak termasuk kedalam risiko yang kecil
    atau dapat diterima, maka risiko tesebut harus dikelola dengan langkah –
    langkah penanganan risiko.
  16. Penanganan Risiko
    Penanganan risiko meliputi identifikasi alternaif cara penanganan dan
    penaksiran penanganan yang sesuai .
    Aternatif penanganan risiko meliputi :
  17. Menghindari risiko (avoid)
  18. Menurut tingkat kekerapan terjadinnya agen risko atau menuunkan
    tingkat dampak risiko (mitigate)
  19. Mehan risiko (retain)
    Dari keseluruhan proses Manajement Risiko, terdapat tiga aktifitas utama
    meliputi analisis, evaluasi dan pengendalian risik