Tipe-Tipe Kepemimpinan


Dalam upaya menggerakkan dan memotivasi orang lain agar melakukan
tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan, seorang pemimpin
memiliki beberapa tipe (bentuk) kepemimpinan. Adapun tipe kepemimpinan
adalah sebagai berikut:

  1. Tipe Otokratik
    Tipe ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak pribadinya
    (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak
    boleh ada orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
    otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandag sebagai
    karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah seorang yang
    egois. Menurut Hadari Nawawi pemimpin otoriter senang mempergunakan
    ungkapan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan: “kantor saya” atau
    “pegawai saya” atau “buruh saya” dan lain-lain seolah-olah organisasi atau
    anggota merupakan miliknya.
    Jadi, seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang:
  2. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
  3. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
  4. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
  5. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
  6. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formilnya
  7. Dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang
    mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
  8. Tipe Kendali Bebas/Masa Bodo (Laisez Faire)
    Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan
    otokratik. Dalam tipe kepemipinan ini pemimpin biasanya menunjukkan perilaku
    yang pasif dan sering kali menghindari diri dari tanggung jawab. Seorang
    pemimpin pada tipe ini cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan
    organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Pemimpin berkedudukan sebagai
    simbol kepemimpinannya dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada
    orang yang di pimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan
    (berbuat) menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik perseorangan
    maupun kelompok-kelompok kecil. Disini seorang pemimpin mempunyai
    keyakinan bahwa dengan memberikan kebebasan yang seuas-luasnya terhadap
    bawahan maka semua akan cepat selesai.
  9. Tipe Paternalistik
    Seorang pemimpin pada tipe paternalistik ini yang mampu berperan sebagai
    bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan
    untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan
    kesejahteraan bawahannya. Jadi, pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin
    yang paternalistik ialah seorang pemimpin yang; (1) Menganggap bawahannya
    sebagai manusia yang tidak dewasa; (2) Bersikap terlalu melindungi; (3) Jarang
    memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; (4)
    Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
    (5) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan
    daya kreasi dan fantasinya; dan (6) Sering bersikap serba tahu.
  10. Tipe Kharismatik
    Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus yaitu
    daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu memperoleh pengikut yang
    sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
    mengapa orang tertentu dikagumi, yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang
    kharismatik mempunyai daya penarik yang amat besar. Oleh karena itu,
    pemimpin semacam ini pada umumnya mempunyai pengikut, meskipun para
    pengikutnya itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut
    pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan sebab musabab seseorang menjadi
    pemimpin yang kharismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang
    demikian diberkahi dengan kekuatan ghaib.
  11. Tipe Militeristik
    Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin dalam menggerakkan
    bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah, senang bergantung
    kepada pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang berlebihan.
    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya, dan sukar menerima
    kritikan dari bawahannya. Maka dapat bahwa dikatakan seorang pemimpin yang
    bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagai
    berikut; (1) Dalam menggerakkan bawahan lebih sering mempergunakan sistem
    perintah; (2) Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat
    dan jabatannya; (3) Senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan; (4)
    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; (5) Sukar menerima
    kritikan dari bawahannya; dan (6) Menggemari upacara-upacara untuk berbagai
    keadaan.
  12. Tipe Pseudo-demokratik
    Tipe ini disebut juga tipe manipulatif atau semi demokratik. Tipe ini ditandai
    oleh adanya sikap seorang pemimpin yang berusaha mengemukakan keinginan-
    keinginannya dan setelah itu membuat sebuah panitia, dengan berpura-pura untuk
    berunding tetapi yang sebenarnya tidak lain untuk mengesahkan saran-sarannya.
    Pemimpin yang bertipe ini hanya tampak bersikap demokratis padahal
    sebenarnya dia bersikap otokratis. Pemimpin seperti ini menurut Sudarwan
    Danim bercirikan antara lain: (1) Banyak meminta pendapat, akan tetapi dia
    sudah mempunyai pendapat sendiri yang dipaksakan untuk disetujui; (2) Seolah-
    olah mengiyakan, akan tetapi akhirnya menyalahkan; (3) Pada saat-saat tertentu
    banyak memberikan pujian kepada bawahan, padahal hanya untuk menarik
    simpati semata-mata; dan (4) Mengambil keputusan secara simbolis.
  13. Tipe Demokratik
    Pada tipe kepemimpinan ini, pemimpin selalu bersedia menerima dan
    menghargai saran, pendapat, dan nasehat dari staf dan bawahan, melalui forum
    musyawarah untuk mencapai kata sepakat. Kepemimpinan demokratik adalah
    kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kegiatan-kegiatan pengendalian
    dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab. Pembagian tugas-tugas yang
    disertai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, memungkinkan
    setiap anggota berpartisipasi secara aktif. Seorang pemimpin yang demokratik
    menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
    menggambarkan secara jelas berbagai tugas dan kegiatan yang harus
    dilaksanakan demi tercapainya tujuan organisasi (Sutikno, 2018)