Dalam upaya menggerakkan dan memotivasi orang lain agar melakukan
tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan, seorang pemimpin
memiliki beberapa tipe (bentuk) kepemimpinan. Adapun tipe kepemimpinan
adalah sebagai berikut:
- Tipe Otokratik
Tipe ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak pribadinya
(pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak
boleh ada orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandag sebagai
karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah seorang yang
egois. Menurut Hadari Nawawi pemimpin otoriter senang mempergunakan
ungkapan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan: “kantor saya” atau
“pegawai saya” atau “buruh saya” dan lain-lain seolah-olah organisasi atau
anggota merupakan miliknya.
Jadi, seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang: - Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
- Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
- Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
- Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
- Terlalu tergantung kepada kekuasaan formilnya
- Dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang
mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. - Tipe Kendali Bebas/Masa Bodo (Laisez Faire)
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan
otokratik. Dalam tipe kepemipinan ini pemimpin biasanya menunjukkan perilaku
yang pasif dan sering kali menghindari diri dari tanggung jawab. Seorang
pemimpin pada tipe ini cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan
organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Pemimpin berkedudukan sebagai
simbol kepemimpinannya dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada
orang yang di pimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan
(berbuat) menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik perseorangan
maupun kelompok-kelompok kecil. Disini seorang pemimpin mempunyai
keyakinan bahwa dengan memberikan kebebasan yang seuas-luasnya terhadap
bawahan maka semua akan cepat selesai. - Tipe Paternalistik
Seorang pemimpin pada tipe paternalistik ini yang mampu berperan sebagai
bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan
untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan
kesejahteraan bawahannya. Jadi, pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin
yang paternalistik ialah seorang pemimpin yang; (1) Menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak dewasa; (2) Bersikap terlalu melindungi; (3) Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; (4)
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
(5) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan
daya kreasi dan fantasinya; dan (6) Sering bersikap serba tahu. - Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus yaitu
daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu memperoleh pengikut yang
sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
mengapa orang tertentu dikagumi, yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang
kharismatik mempunyai daya penarik yang amat besar. Oleh karena itu,
pemimpin semacam ini pada umumnya mempunyai pengikut, meskipun para
pengikutnya itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut
pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan sebab musabab seseorang menjadi
pemimpin yang kharismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang
demikian diberkahi dengan kekuatan ghaib. - Tipe Militeristik
Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin dalam menggerakkan
bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah, senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang berlebihan.
Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya, dan sukar menerima
kritikan dari bawahannya. Maka dapat bahwa dikatakan seorang pemimpin yang
bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagai
berikut; (1) Dalam menggerakkan bawahan lebih sering mempergunakan sistem
perintah; (2) Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat
dan jabatannya; (3) Senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan; (4)
Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; (5) Sukar menerima
kritikan dari bawahannya; dan (6) Menggemari upacara-upacara untuk berbagai
keadaan. - Tipe Pseudo-demokratik
Tipe ini disebut juga tipe manipulatif atau semi demokratik. Tipe ini ditandai
oleh adanya sikap seorang pemimpin yang berusaha mengemukakan keinginan-
keinginannya dan setelah itu membuat sebuah panitia, dengan berpura-pura untuk
berunding tetapi yang sebenarnya tidak lain untuk mengesahkan saran-sarannya.
Pemimpin yang bertipe ini hanya tampak bersikap demokratis padahal
sebenarnya dia bersikap otokratis. Pemimpin seperti ini menurut Sudarwan
Danim bercirikan antara lain: (1) Banyak meminta pendapat, akan tetapi dia
sudah mempunyai pendapat sendiri yang dipaksakan untuk disetujui; (2) Seolah-
olah mengiyakan, akan tetapi akhirnya menyalahkan; (3) Pada saat-saat tertentu
banyak memberikan pujian kepada bawahan, padahal hanya untuk menarik
simpati semata-mata; dan (4) Mengambil keputusan secara simbolis. - Tipe Demokratik
Pada tipe kepemimpinan ini, pemimpin selalu bersedia menerima dan
menghargai saran, pendapat, dan nasehat dari staf dan bawahan, melalui forum
musyawarah untuk mencapai kata sepakat. Kepemimpinan demokratik adalah
kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kegiatan-kegiatan pengendalian
dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab. Pembagian tugas-tugas yang
disertai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, memungkinkan
setiap anggota berpartisipasi secara aktif. Seorang pemimpin yang demokratik
menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
menggambarkan secara jelas berbagai tugas dan kegiatan yang harus
dilaksanakan demi tercapainya tujuan organisasi (Sutikno, 2018)
