Teori Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard


Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard adalah
didasarkan pada saling berhubungannya diantara hal-hal sebagai berikut :

  1. Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan pemimpin.
  2. Jumlah dukungan sosio emosional yang diberikan pemimpin tingkat
    kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukkan dalam
    melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu (Thoha, 2003: 63).
    Dari teori diatas, dapat disimpulkan bahwa model ini didasarkan pada tiga
    variable situasi, yaitu :
  3. Perilaku tugas
    Kadar bimbingan dan pengarahan yang diberikan oleh pemimpin.
  4. Perilaku hubungan
    Kadar dukungan sosioemosional yang disediakan oleh pemimpin.
  5. Kematangan (maturity) bawahan
    Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam
    melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
    Model kepemimpinan ini lebih menekankan pada tingkat kematangan
    (maturity) bawahan, yang terdiri dari :
    a. Kemampuan (job maturity)
    Seorang yang tinggi dalam kematangan kerja memiliki kemampuan untuk
    melakukan pekerjaan.
    b. Kemauan (psychological maturity)
    Seorang yang melakukan pekerjaan tanpa pengarahan dari atasan.
    Hersey dan Blancard menggunakan studi Ohio State untuk
    mengembangkan lebih lanjut keempat gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh
    pemimpin yaitu :
  6. Mengatakan / telling
    Mengatakan (telling) yaitu pemimpin membuat keputusan setelah itu
    pemimpin mengumumkan atau mengatakan hasil dari keputusannya tersebut
    kepada bawahannya.
  7. Menjual / selling
    Menjual (selling) yaitu pemimpin menjual keputusannya kepada
    bawahannya menjual yang dimaksudkan adalah pemimpin membuat
    keputusan dan memberikan kepada bawahannya dalam hal ini bawahannya
    tidak ikut serta dalam pembuatan keputusan hanya pemimpin sendiri yang
    mengambil keputusan tanpa bertanya kepada bawahannya.
  8. Partisipasi
    Partisipasi yaitu seorang pemimpin saling bertukar menukar ide dalam
    pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.Komunikasi dua arah sangat
    diperlukan dan peranan pimpinan secara aktif mendengarkan masukan dari
    bawahannya.Dalam hal ini tanggung jawab pemecahan masalah dan
    pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut atau
    bawahan.
  9. Delegasi
    Pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahannya
    sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah yang kemudian
    pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan.
    Dalam hal ini bawahan memliki kontrol untuk memutuskan tentang
    bagaimana cara pelaksanaan tugas pemimpin memberikan kesempatan yang
    luas bagi untuk melaksanakan kegiatan mereka sendiri karena mereka
    memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab
    (Thoha, 2003: 65-95).