Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja menjadi salah satu hal yang diinginkan oleh semua pekerja.
Kepuasan kerja tidak hanya diukur dengan berapa banyak materi yang dapat
dihasilkan, tetapi sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.
Misalnya adalah lingkungan kerja yang mendukung, kenyaman seorang pekerja
dalam mengaktulisasikan dirinya, dan sebagainya. Di Indonesia sendiri,
perjuangan pekerja untuk mendapatkan kesejahteraan pekerja sudah
diperjuangankan, dan hasil yang didapatkan adalah telah ditetapkannya upah
minimun regional (UMR) sehingga perusahaan-perusahaan atau lembaga-lembaga
yang memperkerjakan karyawan sudah tidak bisa lagi membayar gaji karyawan
denga sesuka hati.
Secara teori kepuasan kerja banyak diungkapkan oleh para ahli, namun di
sini memakai teori kepuasan kerja menurut ahli :
Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Teori ini berpendapat bahwa dalam setiap individu memiliki lima hierarki
kebutuhan mulai kebutuhan yang mendasar sampai dengan kebutuhan yang
lebih tinggi. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman,
sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Maslow berpendapat bahwa orang
berusahan memenuhi kebutuhan pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan
perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (perwujudan diri).
Karyawan memiliki kebutuhan untuk memuaskan hierarchi kebutuhannya
pada tingkat yang berbeda. Karyawan kontrak (buruh kasar) lebih
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bertahan hidup (fisologis)
sedangkan seorang yang memiliki keahlian lebih mencari pemuasan dalam
pemenuhan kebutuhan perwujuan diri (Coretanzone, 2019).
Kepuasan kerja adalah sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap
pekerjaannya. Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan,
mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada
kondisi kerja yang sering kurang ideal dan hal serupa lainya. Menurut Koesmono
(2014) bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian, perasaan atau sikap seseorang
atau karyawan terhadap pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja
adalah dipenuhinya beberapa keinginan dan kebutuhan melalui kegiatan kerja atau
bekerja. Sunyoto (2012) mendifinisikan bahwa : Kepuasan kerja merupakan sifat
individual seseorang sehingga memiliki tingkat kepuasan yang berbeda sesuai
dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Hal ini disebabkan oleh
adanya perbedaan pada masing-masing individu. Semakin banyak aspek-aspek
dalam pekerjaan sesuai dengan keinginan individu tersebut maka semakin tinggi
tingkat kepuasan yang dirasakan begitu pula sebaliknya
Kepuasan kerja adalah hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu yang
dirasakannya di tempat kerja dan merupakan sikap terhadap pekerjaan yang
didasarkan pada aspek intrinsik dan ekstrinsik pekerjaan. Luthans et al. (2021)
menyatakan konsep kepuasan kerja adalah kesenangan atau ketidaksenangan
seorang karyawan terkait dengan pekerjaannya sebagai hasil evaluasi dari orang
yang terlibat. Kepuasan kerja mencerminkan kegembiraan atau sikap emosional
positif yang berasal dari pengalaman kerja, kegembiraan yang dialami karyawan
berpengaruh positif terhadap karyawan, dan tingkat kepuasan kerja tercapai jika
harapan dan kebutuhan karyawan dapat seimbang dengan hasil yang sebenarnya.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan suatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan
dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasan
terhadap kegiatan tersebut. Dengan kata lain kepuasan merupakan evaluasi yang
menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas
atau tidak puas dalam bekerja (Veithzal dan Sagala, 2013).
Widodo (2015) menyatakan bahwa ada beberapa indikator dari kepuasan
kerja, yaitu:

  1. Gaji, yaitu jumlah bayaran yang diterima seseorang akibat dari
    pelaksanaan keja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil,
  2. Pekerjaan itu sendiri, yaitu isi pekerjaan yang dilakukan seseorang
    apakah memiliki elemen yang memuaskan,
  3. Rekan kerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa
    berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan
    kerjanya sangat menyenagkan atau tidak menyenangkan,
  4. Atasan, yaitu seseorang senantiasa memberi perintah atau petunjuk dalam
    pelaksanaan kerja. Cara-cara kerja atasan dapat tidak menyenagkan bagi
    seseorang atau menyenangkan dan hal ini dapat mempengaruhi kepuasan
    kerja,
  5. Promosi, yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui
    kenaikan jabatan, seseorang dapat merasakan adanyakemungkinan besar
    untuk naik jabatan atau tidak. Ini juga dapat mempengaruhi tingkat
    kepuasan kerja seseorang, dan
  6. Lingkungan kerja yang, yaitu lingkungan fisik dan psikologis.