Konsep Niat Berprilaku


Pemahaman terhadap perilaku konsumen akan memudahkan
manajemen dalam upaya untuk mengembangkan produk atau jasanya sesuai
kebutuhan dan keinginan konsumen. Keinginan berperilaku konsumen
seringkali didasarkan pada kemungkinan tindakan yang akan dilakukan. Niat
berperilaku (behavioral intention) didefinisikan Mowen (2012) sebagai
keinginan konsumen untuk berperilaku menurut cara tertentu dalam rangka
memiliki, membuang dan menggunakan produk atau jasa. Jadi konsumen dapat
membentuk keinginan untuk mencari informasi, memberitahukan orang lain
tentang pengalamamannya dengan sebuah produk, membeli sebuah produk
atau jasa tertentu, atau membuang produk dengan cara tertentu.
Menurut Olson&Peter (2008) niat berperilaku (behavioral intention)
adalah suatu proporsisi yang menghubungkan diri dengan tindakan yang akan
datang. Tindakan yang dimaksud yaitu tindakan apakah konsumen akan
membeli produk atau jasa atau berperilaku untuk tidak membeli suatu produk
atau jasa. Tindakan tersebut merupakan bentuk dari proses persepsi konsumen
dari apa yang konsumen persepsikan terhadap produk tersebut.
Menurut Schiffman&Kanuk (2010) niat berperilaku (behavioral
intention) adalah frekuensi pembelian atau proporsi pembelian total dari
pembeli yang setia terhadap merek tertentu. Pemebeli dapat dikatakan setia
terhadap suatu produk dilihat dari bagaimana konsumen berperilaku terhadap
produk tersebut. Menurut Zeithaml (2003) Behavior intention (niat prilaku)
merupakan kemauan untuk merekomendasikan layanan kepada orang lain, dan
kemauan untuk melakukan pembelian ulang. Konsumen yang mempunyai
persepsi bahwa produk yang dikonsumsinya dianggap baik maka konsumen
akan merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain dan ada
kemungkinan untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk tersebut.