Sisi negatif modal sosial


Selain ada kegunaannya, ternyata modal sosial juga mempunyai sisi negatif, antara
lain sebagaimana yang diungkapkan para ahli, sebagai berikut:
Hasil penelitian yang dilakukan Gargiulo dan Bernassi (1999) menunjukkan bahwa
sikap solidaritas yang kuat di dalam sebuah kelompok menimbulkan sikap
diskriminatif pada kelompok lain. Ancok (2003): modal sosial akan menjadi
bencana apabila dimiliki oleh kelompok manusia yang tidak bermoral. Kelompok
gengster/mafia adalah kumpulan orang-orang yang memiliki modal sosial yang
tinggi. Oleh karena itu setiap usaha pengembangan modal sosial harus didasari oleh
semangat spiritual dan etika yang tinggi. Fanatisme kelompok yang
mendeskreditkan kelompok lain, adalah refleksi dari sisi negatif modal sosial.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat nelayan Pulau
Lancang, sisi negatif dari modal sosial, sebagai berikut:
a. Timbul rasa keengganan dari masyarakat untuk beranjak atau keluar dari
kultur/budaya yang suka membolehkan (permissive).
Hal ini terjadi akibat dari tenggang rasa yang sedemikian tinggi diantara warga
masyarakat maupun dengan pihak luar, sehingga apabila diantara individu
warga masyarakat maupun pihak luar ada yang menyimpang, akan timbul rasa
tidak enak/sungkan untuk penegakkan, yang pada akhirnya (lama-kelamaan),
mengkristal menjadi permissive.
b. Dalam konteks nyambang, sebagaimana yang penulis jelaskan dalam Bab IV,
dari sisi nelayan Pulau Lancang, modal sosial sedikit banyaknya menimbulkan
perasaan unggul (superior), sedangkan dari sisi masyarakat yang nyambang
timbul perasaan masa bodo (pokoknya tidak mau tahu) yang penting nyambang
yang seolah-olah menjadi ritual wajib antara pukul 05.30 WIB s.d. 06.00 WIB
setiap harinya.
Perasaan unggul (superior) ini, nampak jelas/kelihatan sekali dalam
kehidupan sehari-hari nelayan Pulau Lancang yang secara rutinitas memberikan
sebahagian hasil tangkapan ikannya kepada masyarakat yang nyambang. Sulit
sekali bagi penulis untuk mengungkapkan dalam bentuk tulisan perasaan uggul
ini, namun demikian penulis dapat merasakan karena dalam keseharian penulis
selalu bersama-sama dengan nelayan Pulau Lancang.