Kepuasan dan ketidakpuasan kerja yang dialami oleh karyawan dapat
ditunjukkan dalam beberapa perilaku, berikut dampak dari kepuasaan kerja
menurut (Robbins & Coulter, 2010), yaitu sebagai berikut:
- Kepuasan dan produktivitas.
Jika seorang karyawan mempunyai kepuasaan kerja yang dirasakan cukup
maka akan mempengaruhi terhadap produktivitas yang akan meningkat
lebih baik sedangkan ketidakpuasan mampu mengurangi produktivitas
secara langsung. - Kepuasaan dan ketidakhadiran.
Seorang karyawan yang merasa tidak puas akan cendereung membolos dan
sebaliknya jika karyawan yang memiliki kepuasaan yang tinggi maka akan
terpacu dengan pekerjaan tersebut. - Kepuasaan dan perputaran karyawan
Karyawan yang puas memberikan dampak tingkat perputaran karyawan
yang lebih rendah. Namun, terdapat factor lain seperti kondis pasar tenaga
kerja, ekpetasi tentang peluang kerja lain, dan dalam masa kerja dalam
perusahaan atau organsasi dapat juga mempengaruhi keputusan seseorang
karyawan untuk mengundurkan diri. - Kepuasaan kerja dan kepuasaan konsumen.
Hubungan ini ini berlaku pada karyawan yang bertugas sebagai frontliner
yang bertugas melayani konsumen secara langsung. Karyawan yang puas
biasanya akan lebih ramah, energik dan responsife terhadap kosumen. - Kepuasaan kerja dengan OCB.
Seorang karyawan mempunyai kepuasaan kerja lebih mengutarakan hal
positif tentang perusahaan, saling membantu rekan kerja, dan melampaui
ekpetasi kerja normal. - Kepuasaan kerja dan perilaku buruk di tempat kerja.
Suatu ketidakpuasaan kerja akan mendorong beberapa perilaku negative di
tempat kerja, seperti misal mengundurkan diri, bermain saat bekerja,
keterlambatan, memakai zat terlarang, berperan antagonis terhadap teman
kerja dan lain sebagainya.
